JAKARTA – Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas minyak, kilang, dan infrastruktur energi Iran selama perang 40 hari telah menimbulkan bahaya lingkungan serius.
Menurut Antara, dikutip Selasa, 13 Oktober, Araghchi menyampaikan pernyataan itu dalam Konferensi Internasional bertajuk “Ekosida, Kejahatan Perang yang Senyap” di Teheran.
Ia mengatakan kebakaran dan pembakaran bahan hidrokarbon akibat serangan telah melepaskan senyawa kimia berbahaya. Araghchi menyebut temuan itu juga telah dikonfirmasi Badan PBB untuk Lingkungan Hidup atau UNEP.
Polutan yang dilepaskan, kata Araghchi, dapat menyebar melalui udara, mencemari tanah dan air, bahkan masuk ke rantai makanan.
Araghchi menilai dampak pencemaran tersebut tidak berhenti pada waktu dan lokasi serangan. Efeknya disebut dapat berlangsung lebih lama dan menyebar ke wilayah yang lebih luas.
Ia juga menyoroti dampak lingkungan akibat serangan militer di Jalur Gaza dan Lebanon yang disebut “mendalam dan persisten”.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan hukum internasional tidak boleh mengabaikan perusakan lingkungan dan hak asasi manusia selama perang.
Serangan gabungan Israel dan AS terhadap Teheran serta sejumlah kota lain di Iran dimulai pada 28 Februari.
Iran kemudian membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset AS di kawasan. Iran juga memperketat kendali atas Selat Hormuz.
Pada 7 Maret, serangan AS-Israel menghantam fasilitas minyak di Teheran dan Provinsi Alborz. Serangan tersebut memicu kebakaran.
Hujan yang turun sehari setelahnya disebut memperparah kerusakan lingkungan akibat serangan tersebut.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
