JAKARTA – Perdana Menteri Inggris Andy Burnham mengatakan pada Hari Senin, dugaan rencana serangan yang menargetkan Pangkalan Udara RAF Fairford di Inggris “kemungkinan besar” dikoordinasikan di Iran, dan hampir pasti diarahkan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC).
Pangkalan RAF Fairford di Inggris barat daya – yang pernah digunakan oleh pesawat pengebom AS untuk melancarkan serangan terhadap Iran – menjadi pusat perhatian dalam respons keamanan besar-besaran setelah lima pria Inggris ditangkap di dekat lokasi tersebut pada dini hari tanggal 27 September atas dugaan pelanggaran terkait terorisme dan bahan peledak.
“Saya dapat mengonfirmasi penilaian kami bahwa hal itu kemungkinan besar dikoordinasikan di Iran, dan hampir pasti diarahkan oleh IRGC,” jelas Burnham di hadapan parlemen, melansir Al Arabiya dari Reuters (13/10).
Pejabat AS mengatakan kepada Reuters, terdapat dugaan rencana serangan pesawat nirawak (drone) yang melibatkan Iran.
Tehran menepis segala tuduhan keterlibatan dalam insiden Fairford, dengan menyebutnya sebagai “spekulasi yang tidak berdasar dan berniat jahat.”
Pekan lalu Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ancaman yang terkait dengan Iran telah memicu keputusan untuk menarik pesawat pengebom dari pangkalan tersebut.
Sementara itu, rincian mengenai dugaan rencana serangan tersebut masih sangat terbatas. Kelima pria yang ditahan itu kemudian dibebaskan tanpa dakwaan dengan jaminan polisi “di bawah persyaratan ketat,” dan dua pria lain yang sempat ditangkap—termasuk seorang warga negara berkebangsaan Inggris-Iran—juga telah dibebaskan.
Detektif menyatakan bensin ditemukan di dalam van yang disita bersama kelima pria tersebut, namun tidak ditemukan bahan peledak yang siap digunakan.
Kendati demikian, baik pihak kepolisian maupun PM Burnham mengindikasikan adanya keterlibatan negara asing.
“Kami tidak akan menoleransi ancaman-ancaman ini di wilayah kami,” tegas PM Burnham.
“Kami akan menindak tegas penggunaan jaringan kriminal oleh Iran, mengerahkan seluruh wewenang kami untuk menargetkan mereka beserta aliran dananya, serta menerapkan sanksi lebih lanjut guna membatasi kemampuan Iran dan IRGC dalam mencelakai kami,” tandasnya.
Kementerian luar negeri dari hampir 30 negara, termasuk AS, Kanada, Prancis, dan Jerman, mengeluarkan pernyataan yang mengecam “penggunaan serangan kekerasan oleh Iran, termasuk tindakan perencanaan serangan mematikan, pembakaran, sabotase, serangan siber, dan aktivitas hibrida lainnya yang ditujukan kepada kami dan mitra-mitra kami.”
“Inggris juga menyimpulkan peristiwa ini menunjukkan kesediaan berkelanjutan IRGC untuk melancarkan aktivitas bermusuhan di luar perbatasannya melalui jaringan rahasia dan aktor proksi,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Selama beberapa tahun, otoritas Inggris telah menuduh Iran terlibat dalam berbagai rencana dan upaya pembunuhan di Inggris dengan menggunakan jaringan kriminal dan proksi—tuduhan yang berulang kali dibantah oleh Teheran.
Tahun lalu, Inggris menyatakan terdapat 20 ancaman kredibel yang didukung Iran untuk membunuh atau menculik individu yang berbasis di Inggris.
Pada Bulan Juli, Inggris menggunakan wewenang baru untuk melarang pemberian dukungan terhadap IRGC dan sebuah kelompok terkait, Harakat Ashab al-Yamin al-Islamiya (HAYI), yang telah mengklaim tanggung jawab atas tujuh serangan awal tahun ini di lokasi-lokasi yang terkait dengan komunitas Yahudi dan Israel serta media berbahasa Persia.
Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband mengatakan telah memanggil duta besar Iran, sementara kementerian tersebut mengumumkan penjatuhan sanksi terhadap dua warga negara Iran.
Kedua pria tersebut adalah Ruhollah Bazghandi – yang menurut Inggris menjabat sebagai Kepala Operasi Kontra-intelijen IRGC – dan Shahram Ali Reza Tamarzadeh Jakki, seorang fasilitator bagi jaringan kriminal Zindashti (yang sebelumnya telah dijatuhi sanksi) yang dituduh terlibat dalam sejumlah rencana serangan terhadap para pembangkang Iran.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
