Terlalu Sering Dengar Berita Korupsi Bisa Bikin Lelah Mental, Bagaimana Menyikapinya?


JAKARTA – Pernahkah Anda merasa lelah setelah membaca berita tentang korupsi? Bukan hanya karena kasusnya, tetapi karena rasanya berita serupa terus muncul dari waktu ke waktu.

Hari ini tentang pejabat publik, besok tentang kepala daerah, kemudian muncul lagi kasus lain yang melibatkan orang dengan jabatan berbeda. Angka yang disebutkan pun sering kali sulit dibayangkan karena mencapai miliaran bahkan triliunan rupiah.

Di tengah derasnya informasi tersebut, wajar jika muncul rasa kecewa yang mungkin memengaruhi kesehatan mental kita. Bahkan tanpa disadari, berita yang terus berulang bisa membuat seseorang mulai berpikir, “Memangnya masih bisa percaya?”

Pertanyaan ini menarik karena kepercayaan sebenarnya bukan sesuatu yang hanya berkaitan dengan pemerintah atau lembaga publik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun membangun banyak keputusan berdasarkan rasa percaya. Kita percaya pada orang yang menepati janji, pada layanan yang memberikan apa yang dijanjikan, atau pada sebuah sistem ketika kita merasa aturan di dalamnya berjalan dengan baik.

Ketika rasa percaya terganggu berkali-kali, reaksi kita biasanya tidak selalu berupa kemarahan. Ada kalanya kita justru menjadi tidak peduli.

Hal serupa bisa terjadi ketika masyarakat terus-menerus melihat berita mengenai penyalahgunaan kepercayaan. Pada awalnya, sebuah kasus mungkin membuat banyak orang marah dan ingin mengetahui lebih jauh. Namun, jika berita serupa datang berulang kali, perhatian dapat berubah menjadi kejenuhan.

Kita mulai terbiasa dengan judul-judul besar, angka fantastis, dan kabar tentang orang yang terseret kasus. Akhirnya, berita tersebut hanya menjadi satu lagi informasi yang lewat di linimasa.

Padahal, di balik setiap kasus, ada persoalan yang lebih besar daripada sekadar siapa yang melakukan kesalahan. Ada pertanyaan mengenai bagaimana sebuah sistem bekerja dan apakah setelah suatu masalah ditemukan, ada sesuatu yang benar-benar berubah.

Menurut Arifia Yasmin, Dosen Program Studi Akuntansi, Universitas Harkat Negeri, kepercayaan publik merupakan bagian penting dalam hubungan antara masyarakat dan pemerintah.

Pemerintah yang dipercaya akan lebih mudah mendapatkan dukungan masyarakat dalam menjalankan berbagai kebijakan. Sebaliknya, ketika rasa percaya menurun, masyarakat dapat menjadi semakin skeptis bahkan enggan terlibat.

“Persoalannya, kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dengan meminta masyarakat untuk percaya. Seperti halnya dalam hubungan antarmanusia, kepercayaan membutuhkan pengalaman yang konsisten. Ketika seseorang melakukan kesalahan, kita biasanya tidak langsung tahu apakah masih bisa mempercayainya atau tidak. Kita melihat apa yang dilakukan setelah kesalahan tersebut terjadi,” ujar Arifia dalam keterangannya kepada VOI, Kamis, 8 Oktober.

Di saat kasus korupsi terungkap, masyarakat tentu membutuhkan informasi mengenai kasus tersebut. Namun, setelah pemberitaan mereda, ada hal lain yang sebenarnya tidak kalah penting untuk diperhatikan: apa yang terjadi sesudahnya?

Apakah ada perbaikan? Apakah kelemahan yang sebelumnya memungkinkan terjadinya masalah diperbaiki? Apakah masyarakat dapat melihat perubahan dalam cara sebuah institusi bekerja?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena banyaknya kasus yang terungkap belum tentu secara otomatis membuat masyarakat merasa lebih percaya. Pengungkapan memang menunjukkan bahwa sebuah masalah dapat diketahui dan dibawa ke ruang publik.

Namun, kepercayaan akan lebih mudah tumbuh ketika masyarakat juga melihat adanya perbaikan setelah persoalan tersebut ditemukan. Di sinilah kita perlu membedakan antara mengetahui masalah dan melihat perubahan.

“Mengetahui bahwa ada korupsi membuat masyarakat sadar persoalan tersebut masih ada. Sementara melihat perubahan membuat masyarakat memiliki alasan untuk percaya bahwa persoalan tersebut sedang diperbaiki,” ujar dia.

Cara kita menerima berita pun memiliki peran. Saat sebuah kasus besar muncul, perhatian publik biasanya tertuju pada bagian yang paling mengejutkan. Berapa uang yang terlibat? Siapa yang terlibat? Bagaimana modusnya? Apa yang terjadi saat penangkapan?

Semua itu memang menarik. Namu, sebagai pembaca, kita juga bisa membiasakan diri untuk melihat informasi dengan lebih lengkap. Jangan hanya berhenti pada bagian yang membuat kita terkejut atau marah.

Coba lihat apa yang terjadi setelahnya. Kebiasaan kecil tersebut dapat membantu kita menjadi pembaca yang lebih kritis. Kita tidak sekadar ikut bereaksi terhadap sebuah berita, tetapi juga mencoba memahami persoalan dan dampaknya.

“Ini menjadi semakin penting di era media sosial ketika sebuah berita dapat menyebar dalam hitungan menit. Informasi yang belum tentu lengkap dapat dengan cepat menjadi bahan perbincangan. Jika kita hanya mengandalkan judul atau potongan informasi, kita bisa saja membangun kesimpulan berdasarkan cerita yang belum utuh,” papar dia.

Menjaga kepercayaan bukan berarti menutup mata terhadap masalah. Justru sebaliknya, rasa percaya yang sehat membutuhkan sikap kritis. Kita bisa kecewa ketika menemukan adanya korupsi. Kita bisa mempertanyakan bagaimana hal tersebut terjadi.

Kita juga bisa menuntut adanya perubahan. Namun, sikap kritis tidak harus berujung pada keyakinan bahwa semua hal pasti buruk dan tidak ada yang bisa diperbaiki.

Dalam hal ini, ada perbedaan antara skeptis dan apatis. Skeptis membuat kita bertanya dan mencari tahu. Apatis membuat kita berhenti peduli.

Bagi masyarakat, menjaga agar rasa kecewa tidak berubah menjadi sikap apatis menjadi hal yang penting. Sebab, ketika semakin banyak orang merasa bahwa tidak ada gunanya peduli, ruang untuk melakukan perubahan justru semakin kecil.

Pemberantasan korupsi pun bukan hanya persoalan lembaga atau aparat. Ada kebiasaan sosial yang ikut membentuk lingkungan tempat kita hidup. Pendidikan mengenai integritas, kebiasaan bersikap jujur, keberanian mempertanyakan sesuatu yang tidak wajar, hingga kepedulian terhadap bagaimana uang publik digunakan merupakan bagian dari budaya yang dibangun bersama.

Selain itu, media juga memiliki peran dalam membentuk cara masyarakat memahami persoalan tersebut. Berita korupsi tentu penting untuk diketahui, tetapi pemberitaan tidak harus berhenti pada sensasi penangkapan atau besarnya nominal kerugian.

“Masyarakat juga membutuhkan cerita mengenai proses setelahnya. Apa yang diperbaiki? Apa yang dipelajari? Bagaimana sebuah institusi berubah? Apakah ada langkah yang dilakukan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi?,” lanjut Arifia.

Informasi seperti itu dapat membantu masyarakat melihat sebuah persoalan secara lebih utuh. Mungkin kita tidak perlu memilih antara menjadi orang yang percaya sepenuhnya atau menjadi orang yang tidak percaya sama sekali.

Menyikapi hal ini, masyarakat bisa tetap kritis sekaligus tetap memberi ruang bagi perbaikan. Kepercayaan tidak berarti menganggap semuanya berjalan sempurna.Kepercayaan justru bisa tumbuh ketika masyarakat melihat bahwa sebuah kesalahan ditangani dengan serius dan ada usaha untuk memperbaikinya.

“Ketika berita korupsi kembali muncul di layar ponsel, mungkin kita tidak perlu berhenti pada rasa marah atau kecewa. Kita bisa melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih jauh: apa yang terjadi setelah kasus ini terungkap?,” ungkap dia.

Pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara kita mengonsumsi berita. Dari sekadar mengikuti kabar terbaru, kita mulai memperhatikan apakah ada perubahan nyata di baliknya.

Dan bagi masyarakat, menjaga rasa percaya bukan berarti berhenti mempertanyakan. Justru dengan tetap peduli, tetap kritis, dan mau mencari tahu, kita ikut menjaga agar rasa kecewa tidak berubah menjadi ketidakpedulian. Sebab, mungkin yang paling berbahaya bukan ketika masyarakat bertanya, “Mengapa ini bisa terjadi?” Melainkan ketika masyarakat sudah tidak lagi merasa perlu bertanya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *