JAKARTA – Mendampingi seseorang yang sedang menghadapi masalah kesehatan mental membutuhkan empati, kesabaran, dan kemampuan mendengarkan tanpa menghakimi. Respons yang tepat dapat membantu seseorang merasa aman untuk bercerita dan mencari pertolongan.
Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie mengatakan, ketika seseorang mulai membuka diri mengenai masalah kesehatan mentalnya, hal tersebut menunjukkan kepercayaan yang besar kepada orang yang diajak berbicara.
“Respons pertama kita akan sangat menentukan apakah ia merasa aman untuk melanjutkan ceritanya atau justru kembali menutup diri,” kata Efnie kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Efnie merupakan psikolog yang tergabung dalam Asosiasi Neuropsikologi Indonesia di bawah Himpunan Psikologi Indonesia. Ia juga mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.
Menurut Efnie, salah satu langkah penting ketika mendampingi seseorang yang sedang mengalami masalah kesehatan mental adalah memberikan perhatian penuh saat mendengarkan ceritanya. Hindari memotong pembicaraan atau terburu-buru menawarkan solusi sebelum memahami persoalan yang dihadapi.
Ia juga menekankan pentingnya validasi emosional, yakni mengakui bahwa perasaan dan pengalaman seseorang nyata serta layak dipahami. Validasi bukan berarti harus menyetujui seluruh pemikiran atau perilakunya.
- Dengarkan Tanpa Menghakimi
Ketika seseorang menceritakan persoalan yang sedang dihadapinya, pendamping sebaiknya memberikan ruang agar ia dapat berbicara dengan nyaman.
Tidak semua orang membutuhkan nasihat atau jawaban secara langsung. Dalam banyak situasi, mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi atau membandingkan masalahnya dengan pengalaman orang lain.
Efnie menyarankan penggunaan kalimat sederhana yang menunjukkan empati dan penghargaan terhadap kepercayaan yang diberikan.
Beberapa ungkapan yang dapat digunakan antara lain:
- “Terima kasih sudah percaya dan mau cerita.”
- “Aku bisa membayangkan ini bukan situasi yang mudah buat kamu.”
- “Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”
- “Aku ada di sini kalau kamu membutuhkan teman.”
- “Menurut kamu, apa yang paling bisa aku bantu sekarang?”
Kalimat-kalimat tersebut dapat membantu seseorang merasa didengar sekaligus memberinya kesempatan untuk menentukan dukungan yang dibutuhkan.
- Tanyakan Bantuan yang Dibutuhkan
Menurut Efnie, bentuk dukungan yang tepat perlu disesuaikan dengan kebutuhan orang yang sedang menghadapi masalah.
Karena itu, pendamping dapat menanyakan apakah orang tersebut ingin didengarkan, membutuhkan bantuan untuk mencari solusi, atau memerlukan teman untuk mengakses pertolongan profesional.
Pendekatan ini membantu menghindari asumsi bahwa setiap persoalan harus segera diselesaikan dengan nasihat.
“Tidak semua orang membutuhkan jawaban ketika sedang bercerita. Terkadang, yang paling mereka butuhkan adalah seseorang yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi, memahami tanpa membandingkan, dan menemani tanpa memaksa,” katanya.
- Hindari Kalimat yang Meremehkan Perasaan
Efnie mengingatkan agar masyarakat menghindari ucapan yang dapat membuat seseorang merasa masalahnya disepelekan.
Beberapa ungkapan yang sebaiknya tidak disampaikan antara lain:
- “Kamu terlalu berlebihan.”
- “Jangan terlalu dipikirkan.”
- “Orang lain masalahnya lebih berat.”
- “Kamu kurang bersyukur.”
- “Harus kuat, jangan lemah.”
- “Sudahlah, berpikir positif saja.”
- “Itu cuma ada di pikiran kamu.”
Menurut Efnie, kalimat-kalimat tersebut mungkin disampaikan dengan maksud baik. Namun, penerimanya dapat merasa bahwa emosi dan pengalaman yang dialaminya tidak diakui.
“Kalimat-kalimat tersebut mungkin disampaikan dengan maksud baik, tetapi dapat membuat seseorang merasa emosinya disepelekan dan pengalamannya tidak dipahami,” ujarnya.
Dampaknya, seseorang bisa semakin enggan bercerita, merasa sendirian, atau memilih menyembunyikan kondisi yang sedang dialaminya.
Karena itu, alih-alih meminta seseorang segera berpikir positif atau membandingkan masalahnya dengan orang lain, pendamping sebaiknya berusaha memahami apa yang sedang dirasakan dan dibutuhkannya.
- Jaga Kerahasiaan dan Kepercayaan
Menjaga kerahasiaan cerita merupakan bagian penting dalam mendampingi orang yang sedang menghadapi masalah kesehatan mental.
Efnie menekankan agar cerita pribadi tidak disebarluaskan tanpa izin karena tindakan tersebut dapat merusak kepercayaan yang telah dibangun.
Namun, kerahasiaan perlu mempertimbangkan keselamatan. Apabila terdapat risiko serius bahwa orang tersebut akan melukai dirinya sendiri atau orang lain, keselamatan harus menjadi prioritas dan bantuan yang tepat perlu segera dicari.
Pendamping juga sebaiknya tidak merasa harus menangani seluruh persoalan sendirian. Dukungan dari psikolog, psikiater, tenaga kesehatan, atau layanan darurat dapat diperlukan sesuai kondisi yang dihadapi.
- Kenali Tanda Bahaya dan Bantu Mendapatkan Pertolongan
Efnie mengingatkan bahwa pernyataan mengenai keinginan mengakhiri hidup perlu ditanggapi dengan serius.
Dalam situasi tersebut, orang yang mendampingi dapat menanyakan secara langsung apakah yang bersangkutan sedang memiliki pikiran untuk bunuh diri. Pertanyaan itu perlu disampaikan dengan tenang dan penuh kepedulian, bukan dengan nada menghakimi.
Jika terdapat risiko segera, jangan biarkan orang tersebut sendirian. Bantu menghubungkannya dengan tenaga profesional atau layanan darurat, serta libatkan orang tepercaya yang dapat membantu menjaga keselamatannya.
Pendamping tidak harus menjadi ahli untuk memberikan pertolongan awal. Mendengarkan, menunjukkan kepedulian, dan membantu mengakses bantuan yang tepat merupakan langkah penting ketika seseorang sedang berada dalam situasi sulit.
Hari Kesehatan Mental Sedunia, Momentum Membangun Ruang Aman
Bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober, Efnie mengingatkan bahwa kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang bertahan menghadapi tekanan hidup.
Menurut dia, lingkungan di sekitar seseorang juga memiliki peran penting dalam menyediakan ruang aman untuk bertumbuh dan menjalani proses pemulihan.
Ia mengajak masyarakat untuk menjadi keluarga, sahabat, dan teman yang tidak hanya hadir ketika seseorang sedang bahagia, tetapi juga bersedia menemani ketika orang tersebut kehilangan kekuatan.
“Karena, terkadang satu orang yang benar-benar mau mendengarkan dapat menjadi awal dari perjalanan panjang seseorang menuju pemulihan,” katanya.
Efnie menegaskan, setiap orang tidak harus selalu mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi orang lain. Kesediaan untuk hadir, mendengarkan, dan menerima tanpa menghakimi pun dapat menjadi bentuk dukungan yang berarti.
“Dan ingat, kita tidak harus selalu menjadi penyelesai masalah dalam kehidupan orang lain. Terkadang, cukup menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk merasa, didengar, dan diterima,” tutur Efnie.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
