JAKARTA – Kepedulian terhadap isu kemanusiaan dapat hadir dalam berbagai bentuk, termasuk melalui ruang kreatif yang mempertemukan masyarakat untuk berbagi cerita, menyampaikan pesan, dan membangun solidaritas.
Semangat tersebut menjadi bagian dari Voice for Palestine: One Hope, One Voice, One Future, yang digelar pada Rabu, 7 Oktober 2026 di Usmar Ismail Hall, Jakarta.
Digelar dalam rangka memperingati tiga tahun Taufan Al-Aqsa, kegiatan ini membawa pesan tentang harapan dan kepedulian terhadap masyarakat Palestina. Alih-alih hanya menghadirkan pertunjukan, acara tersebut memadukan berbagai kegiatan seperti diskusi, pembacaan puisi, sesi refleksi, tausiyah, serta penampilan musik dan nasyid.
Voice for Palestine diselenggarakan oleh Indonesia for Palestine Movement bersama Laju Peduli, Global Humanity Network, ZIS Indosat, serta sejumlah mitra komunitas. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan bagaimana isu kemanusiaan dapat menjadi ruang kolaborasi bagi komunitas, pelaku seni, tokoh publik, dan masyarakat umum.
Acara dipandu Terry Putri dan Ricky Perdana sebagai MC, kemudian dibuka dengan sambutan Sandiaga Uno. Ia menilai kegiatan tersebut bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga bagian dari upaya membangun kepedulian bersama.
“Acara ini bukan sekedar konser musik, tapi bukti nyata kepedulian kita dalam menghimpun solidaritas memberikan bantuan pangan, pendidikan, hingga support bagi anak-anak Yatim dan keluarga di Palestina. Semoga gerakan bersama ini menjadi energi positif yang memberikan harapan dan manfaat yang nyata bagi saudara-saudara kita. Mari kita terus suarakan kemanusiaan dan tebarkan kebaikan. Free Palestine!”, ujar Sandiaga Uno di Voice of Palestina, Jakarta, Rabu, 7 Oktober.
Salah satu rangkaian yang dihadirkan adalah Humanity Talk, yang mempertemukan Arie Untung sebagai tokoh masyarakat, Direktur Laju Peduli Rizqi Dwi Putra, dan Edy Fajar sebagai moderator. Sesi ini menjadi ruang percakapan mengenai berbagai bentuk kepedulian yang dapat dilakukan masyarakat, termasuk melalui kegiatan kreatif dan ruang publik.
Pendekatan tersebut membuat isu kemanusiaan tidak hanya dibicarakan dalam forum formal. Seni dan kreativitas menjadi salah satu cara untuk membawa persoalan yang terjadi jauh dari keseharian masyarakat Indonesia agar tetap mendapat perhatian dan menjadi bahan refleksi bersama.
Hal itu kemudian terlihat melalui pembacaan puisi kemanusiaan oleh Risty Tagor, Puput Melati, dan Kurnia Chaeranny. Puisi menjadi medium untuk menyampaikan pesan dengan pendekatan yang lebih emosional dan personal, sekaligus memberi ruang bagi pengunjung untuk menghayati isu kemanusiaan melalui perspektif yang berbeda.

Rangkaian acara juga menghadirkan tausiyah dari Ustadz Abi Makki serta Depth Heart for Palestine, sesi refleksi yang dipandu Garlicha Maulidya. Melalui sesi tersebut, peserta diajak untuk lebih mindful terhadap isu kemanusiaan yang sedang terjadi di Palestina.
Kehadiran ruang refleksi menjadi bagian penting dalam keseluruhan acara. Di tengah derasnya informasi yang hadir setiap hari melalui media sosial dan berbagai platform digital, masyarakat sering kali menerima berbagai persoalan dalam waktu yang sangat cepat. Sesi semacam ini memberikan kesempatan untuk berhenti sejenak, memahami kembali sebuah isu, dan melihatnya dari sisi kemanusiaan.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penampilan musik dan nasyid dari SNADA, Vocafarabi, Risty Tagor, dan Ang Sharly. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari pengalaman bersama yang mempertemukan berbagai kalangan dalam satu ruang dengan pesan solidaritas yang sama.
Selain rangkaian acara, partisipasi publik juga hadir melalui donasi langsung dan lelang amal. Hasil donasi serta penjualan tiket dialokasikan untuk mendukung bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Palestina, termasuk kebutuhan anak-anak yatim, pangan, pendidikan, dan kebutuhan musim dingin.
Namun, kepedulian dalam kegiatan tersebut tidak hanya diterjemahkan melalui bantuan materi. Kehadiran masyarakat dalam ruang diskusi, mengikuti sesi refleksi, menikmati pertunjukan, hingga menyampaikan pesan melalui karya seni menunjukkan solidaritas dapat tumbuh melalui berbagai cara.
Fenomena ini juga memperlihatkan semakin beragamnya cara masyarakat terlibat dalam isu sosial. Komunitas tidak hanya menjadi penonton, tetapi dapat ikut menciptakan ruang untuk berdiskusi, berkarya, dan mengajak lebih banyak orang memahami persoalan kemanusiaan dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui Voice for Palestine, musik, puisi, percakapan, dan refleksi ditempatkan dalam satu ruang yang sama. Bukan hanya sebagai rangkaian acara, tetapi sebagai cara untuk menjaga percakapan tentang kemanusiaan tetap hidup di tengah masyarakat.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
