
JAKARTA – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengakui peristiwa jalan amblas seperti yang terjadi di Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, berpotensi terulang di titik lain.
Sebab, masih banyak saluran air berbahan baja bergelombang atau armco di Jakarta yang usianya sudah puluhan tahun dan rentan mengalami kerusakan.
Hal ini disampaikan Rano saat meninjau langsung lokasi perbaikan jalan amblas di Lenteng Agung yang kini sudah kembali bisa dilalui kendaraan setelah pengerjaan selama beberapa hari.
“Jadi memang ini jenis besi yang sudah cukup lama, mungkin lebih dari 30 tahun. Saya waktu ditanya di mana, saya bilang tidak memungkiri di Jakarta akan terjadi lagi (jalan amblas) karena banyak sekali armco-armco di Jakarta juga pada kondisi yang sama (yaitu) lama, tua, pasti keropos kalau besi,” kata Rano, Selasa, 2 Juni.
Menurut Rano, kondisi infrastruktur bawah tanah yang menua bukan hanya terjadi pada saluran armco. Ia mengaku pernah mendapat informasi soal sebagian jaringan pipa air di Jakarta juga belum pernah diganti selama puluhan hingga ratusan tahun.
Karena itu, Pemprov DKI mulai melakukan inventarisasi terhadap titik-titik yang menggunakan saluran armco guna mengantisipasi potensi kerusakan serupa di masa mendatang.
“Makanya tadi saya baru tanya sudah mulai belum diinventarisir titik-titik mana (berpotensi) terjadi. Karena kalau terjadi lagi kita tahu segera,” ucap Rano.
Meski mengingatkan adanya potensi kejadian serupa, Rano menegaskan perbaikan jalan amblas di Lenteng Agung berjalan lebih cepat dari perkiraan. Jalan yang menjadi penghubung utama Jakarta dan Depok itu kini sudah kembali dibuka untuk lalu lintas.
“Hari ini saya meninjau langsung lokasi perbaikan saluran yang badan jalannya sempat amblas. Saya sangat surprise, dalam waktu 5 hari jalan ini sudah bisa dilalui dengan kondisi yang cukup sangat baik,” katanya.
Rano mengaku sempat meminta Dinas Bina Marga melakukan pelapisan ulang aspal. Namun setelah melihat hasil pekerjaan di lapangan, langkah tersebut dinilai belum diperlukan.
“Saya sampai minta kepada Dinas Bina Marga untuk me-layer lagi dengan aspal tapi dengan melihat begini (pasca diperbaiki) gak perlu, artinya ini kondisi yang sangat baik,” tuturnya.
Dalam peninjauan itu, Rano juga mengungkap tantangan teknis yang dihadapi pemerintah jika kerusakan serupa terjadi di lokasi lain. Salah satunya karena saluran yang rusak di Lenteng Agung terhubung dengan aliran dari Waduk Universitas Indonesia (UI) dan berada di bawah jalur rel kereta api.
“Problemnya ini, salurannya ada di bawah rel kereta api. Pertanyaannya, kalau misal terjadi sesuatu di bawah rel kereta api gimana caranya? Itu tadi saya tanya. Saya gak mau nutup-nutupin dan bukan berarti kita harus takut, tapi artinya kita mengantisipasi,” ucap Rano.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat proses perbaikan tidak bisa dilakukan dengan cara penggalian biasa dan membutuhkan metode konstruksi khusus.
Saat ditanya lokasi lain yang dinilai rawan mengalami kerusakan serupa, Rano mengaku Pemprov DKI masih melakukan pendataan.
“Kita masih inventarisasi, ya kita masih inventarisasi. Sebetulnya kalau mau tahu memang banyaknya di PAM, kalau itu ada mapping-nya karena udah ada jalur-jalur karena itu. Tapi kalau yang ini memang kita masih inventarisasi,” imbuhnya.
