JAKARTA – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adhininggar Widyasanti mengatakan, indikasi pergeseran pola konsumsi masyarakat sebenarnya telah teridentifikasi sejak tahun lalu dan perubahan tersebut semakin terlihat pada semester I 2026.
Amalia menjelaskan, pergeseran konsumsi tercermin dari pertumbuhan sejumlah sektor yang berkaitan dengan mobilitas dan aktivitas masyarakat di luar rumah.
Dia menambahkan bahwa konsumsi pada sektor hotel dan restoran tercatat tumbuh di atas 6 persen, sementara sektor transportasi juga menunjukkan perkembangan positif.
“Jadi kalau tadi kita perhatikan konsumsi untuk restoran dan hotel itu tumbuhnya di atas 6 persen dan konsumsi untuk sektor transportasi karena ini menyangkut mobilitas masyarakat itu juga tumbuh relatif ini,” jelasnya.
Menurutnya, data tersebut menggambarkan perubahan preferensi masyarakat yang kini semakin banyak mengalokasikan pengeluaran untuk perjalanan, pariwisata, serta aktivitas yang berkaitan dengan mobilitas.
Selain perubahan jenis konsumsi, lanjut Amalia, BPS juga mencermati pergeseran cara masyarakat berbelanja yaitu transaksi yang sebelumnya dilakukan secara langsung di toko fisik kini semakin banyak beralih ke saluran elektronik.
Amalia mengatakan, perubahan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menganalisis perkembangan konsumsi rumah tangga, sehingga penurunan aktivitas pada saluran penjualan tertentu belum tentu mencerminkan penurunan konsumsi secara keseluruhan.
Berdasarkan catatan BPS, konsumsi masyarakat Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan di atas 5 persen selama semester I 2026, dan capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa daya beli masyarakat masih relatif kuat.
“Daya beli masyarakat di Indonesia ini berdasarkan catatan BPS itu memang masih kuat karena selama satu semester itu masih tumbuh di atas 5 persen konsumsi masyarakat dan yang tadi yang terlihat oleh rekaman data kami adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat karena dipengaruhi oleh gaya hidup yang berbeda,” tuturnya.
Perubahan gaya hidup masyarakat turut memengaruhi arah pertumbuhan konsumsi, sehingga pengeluaran untuk transportasi, hotel, dan restoran semakin menonjol seiring meningkatnya mobilitas dan minat masyarakat untuk bepergian.
BPS menilai perubahan pola konsumsi tersebut perlu menjadi bagian dari analisis ekonomi agar perkembangan daya beli masyarakat dapat dipahami secara lebih komprehensif.
“Karena sekarang terlihat konsumsi masyarakat lebih tumbuh, pertumbuhannya lebih tinggi untuk transportasi restoran dan hotel. Nah ini karena memang pola konsumsi masyarakatnya yang lebih pada mobilitas, kemudian travelling, itu yang terekam dalam data kami,” jelasnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
