Hadapi Dengue di Indonesia, Penanganan Tak Cukup Hanya Mengandalkan 3M Plus


JAKARTA– Penanganan dengue membutuhkan strategi yang lebih luas dari sekadar merawat pasien ketika sudah terinfeksi.

Pencegahan, pengendalian nyamuk penular, deteksi dini, hingga penguatan tata laksana perlu berjalan beriringan untuk menekan dampak penyakit yang masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia.

Kebutuhan tersebut semakin relevan melihat besarnya dampak dengue, bukan hanya terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga terhadap layanan kesehatan dan kondisi ekonomi keluarga.

Studi yang dipresentasikan dalam Asia Dengue Summit ke-9 di Singapura pada Juni 2026 memperkirakan beban ekonomi dengue di Indonesia mencapai USD 550,9 juta atau hampir Rp9 triliun pada 2024.

Besarnya beban tersebut menunjukkan dengue dapat memberikan dampak berlapis. Ketika seseorang harus menjalani perawatan, keluarga bukan hanya menghadapi biaya medis, tetapi juga pengeluaran lain seperti transportasi, kebutuhan pendamping, serta kehilangan pendapatan karena tidak dapat bekerja.

Peneliti senior Universitas Gadjah Mada, Dr. Diah Ayu Puspandari, Apt., MBA., M.Kes., mengatakan kondisi tersebut menjadi alasan pencegahan perlu mendapatkan perhatian lebih besar.

“JKN belum menghapus beban ekonomi di tingkat rumah tangga. Pasien yang tercakup JKN tetap akan mengeluarkan biaya mandiri (out-of-pocket) rata-rata Rp1,09 juta hingga Rp1,33 juta per episode, dan pada pasien tanpa asuransi angkanya jauh lebih tinggi, yakni Rp4,27 juta hingga Rp5,60 juta per episode. Beban ekonomi ini akan berdampak lebih berat bagi keluarga yang berpenghasilan rendah, sehingga pencegahan dengue menjadi cara nyata untuk meringankan tekanan ekonomi pada keluarga Indonesia sekaligus menjaga keberlanjutan dan efektifitas sistem pembiayaan kesehatan nasional,” ujarnya.

Dengue ditularkan melalui nyamuk Aedes. Indonesia sebagai negara tropis memiliki risiko penularan yang dapat berlangsung sepanjang tahun. Seseorang juga dapat mengalami infeksi dengue lebih dari satu kali, sementara infeksi berikutnya dapat berisiko lebih berat.

Karena itu, penanganan dengue tidak berhenti pada pasien yang sudah sakit. Memutus rantai penularan menjadi bagian penting dari strategi pengendalian.

Langkah yang selama ini dilakukan antara lain Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, yakni menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup wadah yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.

Peran Jumantik juga dapat membantu menemukan dan mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk di lingkungan.

Di sisi lain, pengendalian dengue juga membutuhkan sistem surveilans yang kuat agar perubahan pola kasus dapat diketahui lebih cepat. Data epidemiologi dapat digunakan untuk memperkuat kewaspadaan dan mendukung respons ketika terjadi peningkatan kasus.

Pendekatan tersebut kini juga berkembang dengan pemanfaatan inovasi kesehatan, termasuk teknologi Wolbachia. Selain pengendalian vektor, vaksinasi dengue turut dipertimbangkan sebagai salah satu instrumen dalam strategi pencegahan yang lebih luas.

Studi analisis efektivitas biaya dari Center for Child Health (CCH-PRO), Universitas Gadjah Mada, menunjukkan bahwa vaksinasi dengue pada anak usia sekolah berpotensi menjadi intervensi yang hemat biaya. Dalam proyeksi selama 20 tahun, program tersebut diperkirakan dapat mencegah sekitar 1,1–1,3 juta tahun hidup sehat yang hilang akibat dengue.

Dari perspektif masyarakat, kajian tersebut juga memperkirakan adanya penghematan bersih hingga USD 329,3–731,5 juta. Penghematan terutama berkaitan dengan berkurangnya kehilangan produktivitas akibat sakit serta ketidakhadiran anak di sekolah.

Meski pencegahan menjadi bagian penting, pengendalian dengue tetap membutuhkan kemampuan untuk mengenali penyakit dan memberikan penanganan secara tepat ketika seseorang mengalami infeksi.

Deteksi dini memungkinkan pasien mendapatkan pemantauan dan tata laksana sesuai kondisi klinisnya. Pada saat yang sama, sistem kesehatan perlu mampu mengenali peningkatan kasus agar respons terhadap potensi kejadian luar biasa dapat dilakukan lebih cepat.

Ketua KOBAR Lawan Dengue, dr. H. Suir Syam, M.Kes, M.M.R, mengatakan pengendalian dengue membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Upaya pencegahan dengue kini semakin kuat. Selain edukasi, deteksi dini, dan pengendalian vektor, Indonesia juga memiliki berbagai inovasi kesehatan, termasuk Wolbachia dan vaksinasi dengue, yang dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi pencegahan yang lebih luas. Studi terbaru juga menunjukkan vaksinasi dengue pada anak usia sekolah berpotensi memberikan nilai ekonomi yang baik bagi Indonesia. Ini saatnya kita melihat pencegahan sebagai investasi, bukan sekadar biaya,” tambahnya.

Penguatan pengendalian dengue juga diarahkan melalui penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Dengue 2026–2029. Rencana tersebut diharapkan menjadi kerangka bagi berbagai pihak untuk memperkuat upaya pengendalian secara lebih terkoordinasi.

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, menyampaikan komitmen pemerintah untuk memperkuat penanganan dengue.

“Kementerian Kesehatan tengah menyusun Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029, sebagai pedoman bersama bagi seluruh pemangku kepentingan dalam dalam memperkuat surveilans, pencegahan, deteksi dini, tata laksana klinis dengue serta kolaborasi lintas kementerian, lembaga dan sektor guna menurunkan beban dengue di Indonesia,” dr. Benjamin.

Melalui pendekatan tersebut, penanganan dengue tidak hanya diarahkan pada pengobatan ketika kasus muncul. Edukasi masyarakat, pemantauan kasus, pemberantasan sarang nyamuk, pengendalian vektor, deteksi dini, tata laksana klinis, serta pemanfaatan inovasi seperti Wolbachia dan vaksinasi dapat menjadi bagian dari rangkaian strategi yang saling melengkapi.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *