JAKARTA – Kenangan yang membawa rasa hangat dilambangkan sebagai langit ungu oleh Francis Karel. Lewat single Purple Skies Francis memasuki fase baru setelah beberapa tahun tinggal di Los Angeles dan tumbuh sebagai singer-songwriter di tengah ekosistem industri musik Amerika.
Musisi berusia 27 tahun ini kembali ke Jakarta membawa pengalaman dan perspektif tersebut, sekaligus membuka ruang baru untuk mengeksplorasi musiknya.
Proses lahirnya lagu Purple Skies terjadi secara spontan. Berangkat dari sebuah hubungan romantis yang singkat tetapi membekas, Francis menulis lagu ini dalam waktu sekitar empat jam.
Ia tidak melihatnya sebagai lagu patah hati. Ceritanya memang sudah selesai, tapi bukan berarti semua yang tertinggal harus terasa sedih. Ada kenangan yang cukup disimpan sebagai sesuatu yang pernah terasa baik.
“Buat aku, ‘Purple Skies’ bukan tentang wanting someone back. Lebih ke perasaan hangat ketika kita mengingat sesuatu yang pernah membuat kita happy. The memory stays, and somehow the good feeling stays too,” ujar Francis Karel dalam siaran tertulis yang diterima VOI, 12 Oktober.
Cerita lagu ini juga diterjemahkan ke dalam music video yang dibintangi Chicco Kurniawan dan Diandra Agatha. Lewat sebuah perjalanan imajinatif dengan roket, keduanya seperti dibawa keluar dari realitas, masuk ke dunia yang terbentuk dari memori, emosi, dan nostalgia. Di situlah langit ungu hadir sebagai gambaran dari sebuah kenangan yang terasa begitu indah dan familiar. Seperti ketika kita mengingat satu momen di masa lalu dan, untuk sesaat, ingin tinggal sedikit lebih lama di sana.
Francis ikut terlibat sejak awal dalam pengembangan konsep bersama sutradara Imaji Fabiandava, sehingga music video ini tidak hanya mengikuti cerita lagunya, tetapi juga membawa penonton masuk lebih jauh ke dunia yang Francis bayangkan untuk lagunya.
Sedikit latar belakang, Francis mulai menulis lagu sejak menjelang usia 12 tahun. Seiring waktu, songwriting tidak lagi hanya menjadi cara untuk menceritakan pengalaman pribadinya. Ia belajar mendengarkan cerita orang lain, menangkap feeling dan detail-detail kecil, lalu menerjemahkannya menjadi lagu yang terasa personal bagi orang yang membawakannya.
Sekolah musik, kemudian tinggal dan bekerja di Los Angeles mempertemukan Francis dengan ritme kerja yang berbeda. Dalam satu writing session, ia terbiasa berkolaborasi dengan songwriter dan producer lain, dengan peran yang bisa berubah tergantung kebutuhan lagu. Prosesnya cepat, dalam sehari, mereka bisa mengerjakan dua hingga tiga lagu dengan demo yang sudah cukup matang.
Ia pelan-pelan belajar menjadi lebih adaptif. Tidak selalu datang dengan caranya sendiri, tapi belajar membaca siapa yang ada di ruangan, apa yang dibutuhkan lagu, dan bagaimana sebuah ide bisa dikembangkan bersama. Pengalaman tersebut kini menjadi bagian dari cara Francis bekerja, baik sebagai songwriter maupun saat mulai mengeksplorasi peran sebagai music producer.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
