AI Bantu Rancang Bangunan Tahan Gempa di Indonesia, tapi Keputusan Tetap di Tangan Insinyur


SINGAPURA – Kecerdasan artifisial atau AI mulai digunakan untuk membantu insinyur menguji lebih banyak skenario sebelum bangunan dan infrastruktur dibangun. Untuk Indonesia yang memiliki banyak wilayah rawan gempa, teknologi ini bisa membantu membaca respons struktur, kondisi tanah hingga menentukan alternatif desain yang lebih aman.

Senior Director Asia Pacific Japan Solution Engineering Bentley Systems Amit Shrivastava mengatakan perancangan bangunan di Indonesia harus mempertimbangkan zona seismik dan potensi gempa di setiap lokasi.

“Ketika saya memahami zona seismik tempat saya berada, saya harus mendesain bangunan secara berbeda. Ketika mendesain bangunan, saya harus dapat menganalisis bagaimana bangunan tersebut akan bekerja ketika gempa terjadi,” kata Amit di sela Year in Infrastructure 2026 di Singapura, dikutip dari Antara, Jumat, 9 Oktober.

Bentley Systems memiliki perangkat lunak STAAD yang digunakan untuk menganalisis struktur. Perangkat ini dapat menyimulasikan bagaimana bangunan merespons beban atau tekanan.

Hasil simulasi kemudian digunakan insinyur untuk mengevaluasi perilaku struktur sebelum menentukan desain yang sesuai dengan kondisi dan risiko di lokasi pembangunan.

Teknologi juga digunakan untuk melihat persoalan yang tidak selalu terlihat dari permukaan. Melalui digital twin atau kembaran digital, model rekayasa dapat dipadukan dengan teknologi informasi dan data operasional.

Dalam pembangunan infrastruktur, sistem tersebut dapat membantu membaca kondisi geologi bawah permukaan, termasuk tanah lunak dan lereng yang memengaruhi desain fondasi maupun jalan.

AI kemudian memungkinkan lebih banyak pilihan desain diuji dalam waktu lebih singkat.

Amit mencontohkan pembangunan jalan. Setelah titik awal, titik akhir, kondisi medan dan struktur tanah dimasukkan, sistem dapat menjalankan ratusan iterasi untuk membandingkan berbagai pilihan jalur.

“Dengan teknologi, kita dapat mencoba jauh lebih banyak kondisi untuk melihat mana yang lebih baik. Teknologi dapat mengurangi potensi pembongkaran proyek karena salah desain,” ujarnya.

Meski menawarkan kemampuan analisis dalam jumlah besar, Amit menegaskan AI tidak mengambil alih pekerjaan insinyur.

Teknologi dapat menyediakan informasi dan membandingkan berbagai kemungkinan. Namun, keputusan akhir tetap membutuhkan manusia yang memahami struktur bangunan, kondisi tanah dan karakteristik gempa di lokasi proyek.

“AI dapat memberikan informasi, tetapi keputusan tetap berada pada manusia, yaitu insinyur. Manusia harus tetap berada dalam human-in-the-loop,” katanya.

Human-in-the-loop berarti manusia tetap terlibat untuk memeriksa hasil analisis AI dan mengambil keputusan.

Menurut Amit, kombinasi AI, simulasi struktur dan digital twin memberi insinyur lebih banyak pilihan untuk menguji desain sebelum pembangunan dimulai. Untuk wilayah dengan risiko gempa seperti Indonesia, pengujian tersebut dapat digunakan dalam merencanakan bangunan dan infrastruktur yang lebih tangguh.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *