Rusia Sebut Kehadiran Militer NATO di Afghanistan dan Negara Tetangga Tidak Dapat Diterima


JAKARTA – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan, Moskow menganggap penempatan infrastruktur militer NATO di Afghanistan dan negara-negara tetangga – dengan dalih apa pun – sebagai hal yang “sama sekali tidak dapat diterima,” seraya memperingatkan kehadiran semacam itu dapat mengganggu stabilitas kawasan.

Berbicara dalam konsultasi Format Moskow ke-8 mengenai Afghanistan, Lavrov mengatakan Pemerintahan Afghanistan yang dipimpin Taliban menjalankan pemerintahan dengan “cukup sukses.”

“Bulan Agustus ini menandai lima tahun sejak pembebasan negara tersebut dari dua dekade pendudukan Barat,” ujarnya, melansir Anadolu (5/10).

“Pemerintahan nasional yang berkuasa, yang dipimpin oleh gerakan Taliban, telah menguasai wilayah negara tersebut dan – harus diakui – menjalankan pemerintahan dengan cukup sukses,” tandasnya.

Lebih jauh ia menyebutkan, pasukan keamanan Afghanistan sedang memerangi ISIS (Daesh) dan “kelompok teroris” lainnya; ratusan militan telah dilumpuhkan dan sejumlah serangan besar berhasil digagalkan.

“Saya ingin menekankan bahwa merupakan kepentingan bersama kita untuk membantu memperkuat kemampuan kontraterorisme Kabul dengan memberikan bantuan logistik dan tenaga ahli, serta menjaga komunikasi antara dinas khusus dan badan-badan keamanan,” urai Lavrov.

Menlu Rusia juga menyatakan, langkah-langkah Pemerintah Afghanistan untuk menekan perdagangan narkoba ilegal mulai membuahkan hasil, dengan merujuk pada perkiraan PBB bahwa produksi opium telah turun sebesar 90 persen sejak tahun 2022.

Ia mengatakan ekonomi Afghanistan terus berkembang meskipun ada apa yang disebutnya sebagai sanksi berat dari Barat, seraya menambahkan bahwa sekitar 170 fasilitas manufaktur telah dibuka dan perdagangan luar negeri mencapai 14 miliar dolar AS pada tahun lalu.

Namun, Lavrov mengakui bahwa situasi kemanusiaan masih sulit. Ia mengutip perkiraan PBB yang menyebutkan bahwa lebih dari 17 juta warga Afghanistan mungkin menghadapi kekurangan pangan pada musim dingin ini dan 22 juta orang akan membutuhkan bantuan kemanusiaan.

“Rusia akan terus melakukan pengiriman bantuan kemanusiaan secara berkala,” ujarnya, seraya menambahkan pengiriman berikutnya diperkirakan akan tiba di Afghanistan dalam “satu atau dua bulan” ke depan.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *