JAKARTA – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan Teheran tidak gentar menghadapi Amerika Serikat dan siap menempuh dua jalur sekaligus, yakni menghadapi konflik secara militer maupun melakukan negosiasi melalui jalur diplomasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Ghalibaf dalam sidang parlemen Iran pada Minggu, sebagaimana dilaporkan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
“Kami hadir di medan tempur militer dengan segenap kekuatan kami dan akan menghadapi mereka dengan kejutan-kejutan baru. Kami menggunakan instrumen diplomasi untuk menegaskan keunggulan kami di bidang militer dan memperjuangkan hak-hak rakyat Iran,” kata Ghalibaf.
Menurut Ghalibaf, Amerika Serikat telah menyampaikan sejumlah usulan melalui mediator setelah Iran sebelumnya mengajukan peta jalan selama tujuh hari untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Namun, Ghalibaf menegaskan Iran belum bersedia membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut sebelum tujuh syarat yang diajukan Teheran terpenuhi.
Persyaratan tersebut mengacu pada apa yang disebut Iran sebagai Memorandum Islamabad, yakni kerangka kesepakatan yang dicapai pada Juni.
Iran Ajukan Syarat untuk Akhiri Konflik
Pada bulan sebelumnya, Iran menyampaikan sejumlah persyaratan resmi kepada Amerika Serikat melalui mediator Qatar sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari.
Persyaratan yang diajukan Teheran antara lain penghentian seluruh permusuhan di berbagai lini, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta penghentian blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Dalam pernyataannya, Ghalibaf menegaskan kembali bahwa posisi Iran terkait pembukaan Selat Hormuz berkaitan dengan pemenuhan persyaratan tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama transportasi energi dunia. Karena itu, pembatasan lalu lintas di kawasan tersebut berpotensi berdampak terhadap distribusi energi dan perdagangan internasional.
Upaya Diplomasi Terus Berlangsung
Menurut informasi dalam laporan tersebut, Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah wilayah di kawasan Timur Tengah.
Konflik tersebut juga berdampak terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang disebut Iran ditutup secara efektif sebagai bagian dari respons terhadap serangan.
Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik terus berlangsung setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada Juni.
Nota tersebut mengatur sejumlah langkah segera, termasuk upaya memulihkan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz serta pembahasan mengenai program nuklir Iran.
Pernyataan Ghalibaf menunjukkan bahwa Teheran masih membuka ruang bagi jalur diplomasi, tetapi pada saat yang sama mempertahankan kesiapan militernya sebagai bagian dari strategi menghadapi Amerika Serikat.
Dengan demikian, posisi Iran yang disampaikan melalui parlemen menggabungkan kesiapan menghadapi konflik bersenjata dengan peluang untuk melanjutkan negosiasi melalui jalur diplomatik.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
