Belajar Bahasa Isyarat, Langkah Sederhana Membangun Ruang yang Lebih Ramah bagi Teman Tuli


JAKARTA – Bagi Teman Tuli, komunikasi membutuhkan cara yang berbeda. Bahasa isyarat menjadi salah satu cara untuk membangun percakapan dan menyampaikan kebutuhan.

Memahami sejumlah isyarat dasar bukan hanya soal mempelajari bahasa baru, tetapi juga dapat menjadi langkah sederhana untuk menciptakan interaksi yang lebih nyaman dan setara.

Kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan ketika interaksi berlangsung di ruang publik, termasuk saat menggunakan layanan transportasi, berbelanja, atau menikmati makanan di sebuah tempat.

Salah satu pengalaman datang dari Imelda Situmorang, Teman Tuli yang juga Mitra Pengemudi Perempuan Grab. Menurutnya, ruang untuk saling belajar dapat membantu orang memahami cara berkomunikasi yang lebih inklusif.

“Rompi Teman Setara juga membantu memperlancar komunikasi karena memuat informasi visual yang dapat dilihat penumpang, misalnya untuk memberi arahan kiri atau kanan serta menggunakan isyarat sederhana seperti ‘terima kasih’ dan ‘sama-sama’. Kalau kegiatan seperti ini diadakan kembali, saya akan ikut lagi karena banyak ilmu baru yang didapatkan,” kata Imelda Situmorang, Teman Tuli yang juga Mitra Pengemudi Perempuan Grab.

Membangun lingkungan yang inklusif tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Mengenal cara menyapa, mengucapkan terima kasih, memberikan arahan, atau memahami kebutuhan seseorang dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Hal tersebut menjadi salah satu pendekatan dalam rangkaian edukasi bahasa isyarat yang dilakukan bagi mitra pengemudi dan pelaku usaha di sejumlah kota.

Ratusan mitra pengemudi di Medan, Semarang, dan Jakarta, misalnya, mendapat kesempatan untuk mengenal dasar-dasar bahasa isyarat bersama komunitas dan organisasi yang bergerak di bidang isu disabilitas.

Pembelajaran tersebut berlangsung dalam suasana yang lebih informal. Selain mendapatkan pengetahuan mengenai bahasa isyarat, peserta juga dapat berinteraksi langsung dengan Teman Tuli dan memahami pengalaman mereka dalam aktivitas sehari-hari.

Hal serupa dilakukan kepada pelaku usaha. Sebanyak 450 mitra usaha di Bali, Bandung, dan Yogyakarta mengikuti edukasi bahasa isyarat dasar yang dapat digunakan dalam pelayanan kepada pelanggan.

Dari situ, komunikasi inklusif tidak lagi hanya menjadi pembahasan mengenai aksesibilitas, tetapi mulai diterapkan dalam situasi yang dekat dengan keseharian—ketika seseorang memesan makanan, menerima pesanan, bepergian, atau sekadar berinteraksi dengan orang lain.

Perkembangan teknologi juga membuka berbagai kemungkinan untuk mengurangi hambatan komunikasi.

Bagi Teman Tuli yang bekerja sebagai pengemudi, misalnya, komunikasi berbasis teks dapat menjadi alternatif ketika komunikasi melalui telepon tidak memungkinkan. Fitur seperti Disable Call mengalihkan komunikasi dari panggilan ke pesan, sementara dukungan melalui teks dan chat dapat membantu ketika mitra membutuhkan bantuan.

Ada pula teknologi yang memberikan saran komunikasi berbasis teks untuk membantu interaksi antara pengemudi dan pelanggan penyandang disabilitas. Namun, teknologi bukan satu-satunya bagian dari ekosistem yang inklusif.

Pemahaman manusia tetap memiliki peran penting. Ketika seseorang mengetahui cara berkomunikasi yang tepat dan memahami bahwa kebutuhan setiap orang dapat berbeda, teknologi kemudian menjadi alat pendukung, bukan satu-satunya solusi.

Di samping itu, upaya membangun pemahaman juga dapat dilakukan melalui pengalaman langsung. Di lingkungan internal sebuah perusahaan, misalnya, pembelajaran inklusif dilakukan melalui interaksi dengan pelaku usaha dan mitra pengemudi Tuli.

Karyawan berkesempatan mengenal bahasa isyarat dalam percakapan sehari-hari serta melihat secara langsung pengalaman Teman Tuli ketika menjalankan aktivitas pekerjaan.

Pendekatan seperti ini memberikan perspektif yang berbeda. Alih-alih hanya memahami isu disabilitas melalui informasi tertulis, seseorang dapat belajar melalui percakapan dan pengalaman orang yang mengalaminya secara langsung.

Neneng Goenadi, Chief Executive Officer Grab Indonesia, mengatakan pengalaman bersama Teman Tuli memberikan pembelajaran mengenai pentingnya interaksi yang setara.

“Perjalanan bersama Teman Tuli, baik sebagai Mitra Pengemudi, Mitra GrabMerchant, maupun pelanggan, terus memberikan berbagai pengalaman dan pembelajaran bagi kami. Melalui berbagai ruang interaksi dan edukasi yang telah kami hadirkan, kami ingin memperluas pemahaman bahwa inklusivitas merupakan bagian dari pengalaman bersama dalam ekosistem Grab,” tuturnya.

Menciptakan ruang yang lebih inklusif bukan hanya tentang menyediakan fasilitas atau teknologi. Cara seseorang berinteraksi juga menjadi bagian penting dari aksesibilitas.

Belajar beberapa kata dalam bahasa isyarat, memberikan informasi secara visual, menggunakan pesan teks ketika diperlukan, atau sekadar memberikan waktu bagi seseorang untuk menyampaikan kebutuhannya dapat membuat sebuah interaksi terasa berbeda.

Berbagai inisiatif yang melibatkan Teman Tuli, mitra pengemudi, pelaku usaha, pelanggan, dan karyawan memperlihatkan bahwa inklusivitas dapat dibangun melalui banyak sisi. Edukasi, teknologi, pengalaman langsung, dan kesempatan untuk bekerja dapat saling melengkapi.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *