JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian akan menindaklanjuti dan mengonfirmasi langsung kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengenai laporan puluhan penyintas gempa bumi yang meninggal dunia selama berada di pengungsian.
Tito mengatakan perlu memastikan lokasi serta penyebab kematian para pengungsi sebelum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai kondisi tersebut.
“Saya akan cross-check dulu kepada pemerintah daerah, di mana saja dan penyebabnya apa. Daripada saya ngarang-ngarang jawabannya, ini sebagai masukan. Saya akan tanya Gubernurnya,” kata Tito setelah rapat tingkat menteri di Kantor Kementerian Sosial, Salemba, Jakarta, Rabu.
Pernyataan tersebut disampaikan Tito menanggapi laporan mengenai 42 pengungsi gempa NTT yang meninggal dunia selama mengungsi.
Menurut Tito, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) akan ikut memantau peran pemerintah daerah dalam memberikan perawatan kepada para penyintas gempa di lokasi pengungsian.
Meski demikian, koordinasi penanganan kondisi darurat di lapangan secara struktural berada di bawah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).
Pemda Diminta Optimalkan Dana Rp180 Miliar
Tito mengatakan pemerintah pusat telah mengalokasikan tambahan dana belanja tidak terduga (BTT) untuk mendukung penanganan dampak gempa di NTT.
Pemerintah mengalokasikan Rp20 miliar untuk masing-masing dari tujuh kabupaten/kota terdampak, serta Rp40 miliar untuk Pemerintah Provinsi NTT.
Dengan alokasi tersebut, total tambahan BTT yang disiapkan mencapai Rp180 miliar.
Tito meminta kepala daerah mengoptimalkan pemanfaatan anggaran tersebut secara cepat untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak, termasuk fasilitas kesehatan dan pelayanan di lokasi pengungsian.
“Kalau ada hal karena kurang treatment atau yang kurang layak, ya ini jadi bagian evaluasi. Saya pasti akan menyampaikan kepada Pemda-nya untuk memanfaatkan anggaran yang ada,” tegas mantan Kapolri tersebut.
108 Penyintas Dilaporkan Meninggal di Pengungsian
Data terbaru hingga akhir September 2026 menunjukkan sebanyak 108 penyintas gempa bumi magnitudo 7,7 di wilayah Flores, NTT, dilaporkan meninggal dunia akibat dampak tidak langsung pascagempa saat berada di pengungsian maupun posko.
Kabupaten Manggarai mencatat jumlah kematian tertinggi dengan 44 orang, disusul Manggarai Timur sebanyak 33 orang dan Nagekeo sebanyak 20 orang.
BNPB mencatat korban tersebut meninggal secara tidak langsung akibat dampak pascagempa, termasuk setelah sempat mendapatkan penanganan medis.
Sebagian korban merupakan kelompok lanjut usia dan anak-anak.
Berdasarkan keterangan pemerintah daerah setempat, sebagian korban mengalami penyakit saluran pernapasan dan gangguan kesehatan lainnya, termasuk pneumonia dan diare yang berkaitan dengan kondisi cuaca ekstrem serta lingkungan pengungsian yang berdebu dan memiliki sanitasi kurang memadai.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam penanganan pascabencana, terutama untuk memastikan kebutuhan kesehatan, sanitasi, serta fasilitas dasar para penyintas di lokasi pengungsian dapat terpenuhi.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
