
JAKARTA – Pakar transportasi sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai rencana keterlibatan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam pendanaan perpanjangan rute LRT Jakarta merupakan langkah strategis yang saling melengkapi.
Menurut Djoko, pembangunan infrastruktur transportasi yang sepenuhnya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) akan memberikan tekanan cukup besar terhadap ruang fiskal daerah.
“Pembangunan infrastruktur berbasis APBD murni jelas sangat menguras ruang fiskal daerah,” kata Djoko, dikutip Antara, Senin, 28 September.
Ia menjelaskan, pembangunan angkutan umum di masa depan tidak lagi sekadar berfokus pada pengadaan armada. Pemerintah juga perlu berani merancang terobosan skema pembiayaan serta menempatkan transportasi sebagai bagian dari pemenuhan hak dasar masyarakat atas mobilitas.
Di tengah keterbatasan ruang fiskal, menurut Djoko, sinergi investasi antara lembaga keuangan nasional dan pemerintah daerah dapat menjadi langkah penting untuk mempercepat pembangunan konektivitas perkotaan secara berkelanjutan.
Djoko menyebut rencana keterlibatan Danantara dalam pendanaan perpanjangan rute LRT Jakarta, seperti koridor Manggarai-Dukuh Atas, Kelapa Gading-Jakarta International Stadium (JIS), hingga Velodrome-Stasiun Kereta Cepat Whoosh Halim, sebagai bentuk sinergi yang saling melengkapi.
“Masuknya Danantara sebagai sovereign wealth fund memberi angin segar berupa alternatif pembiayaan non-anggaran tanpa harus mengandalkan skema obligasi atau pinjaman daerah,” ujarnya.
Menurut dia, skema tersebut dapat membantu menjaga kapasitas APBD DKI Jakarta agar tetap dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan mendasar masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga penyediaan subsidi angkutan umum.
Keterlibatan lembaga investasi berskala nasional juga menunjukkan bahwa sistem transportasi Jakarta tidak lagi dapat dipandang hanya berdasarkan batas administratif wilayah.
“Terhubungnya jaringan LRT dengan simpul-simpul moda utama, seperti Kereta Cepat Whoosh di Halim, Stasiun Integrasi Manggarai, dan kawasan JIS akan mewujudkan perpindahan moda yang mulus bagi masyarakat di kawasan aglomerasi Jabodetabek,” katanya.
Selain menyediakan alternatif pembiayaan, Djoko menilai Danantara sebagai lembaga investasi dapat membawa perspektif bisnis dan pengelolaan komersial dalam pengembangan proyek LRT.
Pendekatan tersebut dapat mendorong optimalisasi kawasan di sekitar stasiun melalui konsep Transit-Oriented Development (TOD) serta pemanfaatan hak penamaan atau naming rights.
Dengan optimalisasi sumber pendapatan non-tiket tersebut, pendapatan LRT diharapkan dapat diperkuat untuk menopang biaya operasional sehingga sistem transportasi dapat berjalan lebih mandiri dan berkelanjutan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
