JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk memperbaiki transaksi berjalan yang masih defisit. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga pasokan valuta asing dan stabilitas rupiah, yang hingga 29 September 2026 telah melemah 7,74 persen sejak awal tahun.
Tekanan pada transaksi berjalan meningkat pada kuartal II-2026. Defisit tercatat 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih besar dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar 3,6 miliar dolar AS atau 1 persen dari PDB.
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G Hutapea mengatakan perbaikan tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan bank sentral.
“Sinergi dilakukan tidak hanya di KSSK, tapi juga dengan kementerian dan lembaga, khususnya terkait dengan stabilitas nilai tukar, agar struktur dari BOP kita atau struktur dari current account kita itu bisa lebih baik,” kata Erwin dalam Taklimat Media di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 30 September.
Menurut Erwin, perbaikan transaksi berjalan perlu didorong lewat peningkatan ekspor dan pengelolaan impor, termasuk kewajiban pembayaran impor yang membutuhkan valuta asing.
“Artinya ekspor bisa lebih banyak dan tentunya impornya lebih terkelola,” ujarnya.
BI juga memantau pelaksanaan aturan baru mengenai Devisa Hasil Ekspor (DHE), termasuk aliran valuta asing melalui bank-bank yang ditunjuk agar lebih banyak masuk ke pasar domestik.
Erwin menjelaskan kondisi transaksi berjalan berpengaruh terhadap kebutuhan valuta asing. Ketika transaksi berjalan defisit, kebutuhan valas lebih besar dibandingkan pasokannya sehingga pergerakan nilai tukar ikut terpengaruh.
“Sebuah negara ketika transaksi berjalannya defisit, artinya kan kebutuhan valuta asingnya lebih besar daripada produksinya, sehingga memang pergerakan nilai tukarnya akan bergerak mengikuti situasi itu. Jadi tugas kita adalah menjaga stabilitas,” katanya.
Selain memperbaiki struktur transaksi berjalan, BI berupaya menjaga keseimbangan neraca pembayaran dengan mendorong masuknya modal asing melalui transaksi modal dan finansial.
Namun, BI tidak hanya mengincar dana jangka pendek atau hot money. Bank sentral lebih mengharapkan investor portofolio jangka panjang atau real money investor, serta investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI).
Langkah tersebut diharapkan membantu menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing di pasar domestik.
Di tengah pelemahan rupiah, BI mencatat volatilitas mata uang Indonesia masih lebih rendah dibandingkan sejumlah negara pembanding. Hingga 29 September, volatilitas rupiah berada di 7,30 persen, dibandingkan Korea Selatan 15,59 persen, Filipina 8,74 persen, dan Malaysia 8,59 persen.
Sementara itu, berdasarkan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah pada Rabu sore berada di level Rp17.877 per dolar AS.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
