Moeldoko Kembali Pimpin PERIKLINDO, Bamsoet Soroti Insentif dan Ketergantungan Komponen Impor


JAKARTA – Jenderal Purn. Moeldoko kembali terpilih sebagai Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO) periode 2026–2031. Di tengah persaingan industri otomotif global, kepengurusan baru dihadapkan pada persoalan kepastian insentif, ketergantungan komponen impor, dan pengembangan pasar ekspor.

Anggota DPR RI sekaligus Ketua Dewan Pengawas PERIKLINDO Bambang Soesatyo atau Bamsoet meminta pemerintah memberikan kepastian kebijakan agar industri kendaraan listrik dapat berkembang. Hal itu disampaikannya dalam Musyawarah Nasional PERIKLINDO di Jakarta, Kamis, 24 September.

“Kebijakan kendaraan listrik harus memiliki arah yang jelas. Industri membutuhkan kepastian untuk menghitung investasi, membangun pabrik, mengembangkan komponen, dan menyiapkan tenaga kerja,” kata Bamsoet.

Menurut Bamsoet, industri kendaraan listrik Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Selain ketergantungan terhadap komponen impor, persoalan skala produksi dan ketidakpastian permintaan setelah perubahan kebijakan insentif perlu mendapat perhatian.

Bamsoet meminta kebijakan insentif, tingkat komponen dalam negeri (TKDN), standar teknis, pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), pengelolaan baterai bekas, dan pembiayaan konsumen memiliki arah yang konsisten.

Insentif juga perlu dikaitkan dengan peningkatan nilai tambah di dalam negeri agar investasi yang masuk turut memperkuat industri nasional.

“Kebijakan yang lahir jangan berubah-ubah dalam waktu singkat. Dengan kepastian tersebut, investor akan lebih berani menanamkan modal dan konsumen juga memiliki kepercayaan untuk beralih ke kendaraan listrik,” ujarnya.

Bamsoet mengatakan Indonesia memiliki sumber daya mineral yang dapat mendukung pengembangan industri baterai. Namun, hilirisasi tidak cukup hanya mengandalkan pengolahan nikel.

Ia mendorong pengembangan industri material baterai, sel baterai, battery pack, motor listrik, komponen elektronik, semikonduktor, perangkat lunak, hingga kendaraan utuh.

“Kekuatan Indonesia ada pada kemampuan membangun ekosistem dari tambang sampai kendaraan. Namun, hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan nikel,” katanya.

Menurut Bamsoet, PERIKLINDO perlu memperkuat hubungan industri dari hulu hingga hilir, mendorong transfer teknologi, dan meningkatkan kemampuan tenaga kerja.

Selain pasar domestik, ia melihat peluang Indonesia menjadi basis produksi kendaraan listrik setir kanan untuk pasar internasional. Negara yang dibidik antara lain Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Selandia Baru, India, dan Inggris.

“Kita harus berani membidik pasar ekspor, terutama negara-negara setir kanan, sehingga kendaraan listrik buatan Indonesia diterima di pasar dunia,” ujarnya.

Bamsoet mengapresiasi terpilihnya kembali Moeldoko. Ia berharap kepemimpinan periode kedua tersebut dapat memperkuat industri dalam negeri, memperluas pasar, menarik investasi, dan meningkatkan daya saing kendaraan listrik Indonesia.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *