JAKARTA – Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengungkapkan alasan Pemerintah Italia menghibahkan kapal induk Giuseppe Garibaldi kepada Indonesia yang kini resmi menjadi KRI Sriwijaya-100.
Menurut Muhammad Ali, hibah kapal induk tersebut tidak terlepas dari hubungan baik dan kedekatan yang telah terjalin antara Indonesia dan Italia, khususnya dalam bidang pertahanan dan militer.
“Italia menganggap kita mempunyai hubungan yang sangat baik dan emosionalnya cukup kuat, akhirnya dihibahkanlah kapal induk ini untuk Indonesia,” kata Ali setelah mengikuti upacara pemberian nama kapal induk dan pengibaran bendera Merah Putih di atas KRI Sriwijaya-100 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9).
Ali menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang membuat hubungan Indonesia dan Italia berlangsung harmonis.
Salah satunya adalah intensitas kerja sama antara TNI dan militer Italia melalui berbagai kegiatan, mulai dari pertemuan diplomasi pertahanan hingga latihan militer bersama.
Selain itu, Kementerian Pertahanan RI juga telah menggunakan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) produksi Italia.
“Kita juga telah banyak menggunakan produk-produk Italia ya, helikopter dan kapal fregat yang lalu,” ujar Ali.
Hibah Kapal Induk Perkuat Industri Pertahanan
Menurut Ali, berbagai kerja sama pertahanan Indonesia dan Italia tidak hanya memperkuat hubungan kedua negara, tetapi juga memberikan manfaat bagi pengembangan industri pertahanan dalam negeri.
Salah satu bentuk kerja sama tersebut dilakukan PT Penataran Angkatan Laut (PAL) Indonesia dengan perusahaan pertahanan asal Italia, Fincantieri, dalam proses pembaruan teknologi KRI Sriwijaya-100.
Kerja sama tersebut membuka peluang transfer of technology (ToT) dari Italia kepada industri pertahanan Indonesia.
Dengan adanya transfer teknologi tersebut, kemampuan industri pertahanan dalam negeri diharapkan semakin berkembang, termasuk dalam penguasaan teknologi untuk mendukung operasional kapal perang.
KRI Sriwijaya-100 Merupakan Hibah Italia
Sebelumnya, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan (Karo Humas Infohan) Setjen Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan Indonesia menerima kapal induk tersebut melalui skema hibah dari Pemerintah Italia.
Kapal yang sebelumnya bernama Giuseppe Garibaldi tersebut dibangun oleh galangan kapal asal Italia, Fincantieri, dan pernah digunakan untuk memperkuat Angkatan Laut Italia.
Namun, Rico menegaskan status hibah tersebut bukan berarti Indonesia tidak mengeluarkan anggaran sama sekali.
Pemerintah Indonesia tetap menyiapkan anggaran untuk kebutuhan retrofit atau penyesuaian kapal agar sesuai dengan kebutuhan operasional TNI AL.
“Giuseppe Garibaldi merupakan hibah dari Pemerintah Italia. Anggaran yang disiapkan pemerintah Indonesia dialokasikan untuk kebutuhan retrofit atau penyesuaian agar sesuai kebutuhan operasi TNI AL,” kata Rico.
Dengan demikian, penerimaan KRI Sriwijaya-100 melalui hibah Pemerintah Italia menjadi bagian dari kerja sama pertahanan kedua negara sekaligus membuka peluang peningkatan kemampuan industri pertahanan nasional melalui kerja sama teknologi dan retrofit kapal.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
