TANGERANG – Pertumbuhan kecerdasan buatan (AI), komputasi awan, dan layanan digital membuat kebutuhan listrik pusat data (data center) semakin besar. Kondisi tersebut menjadikan ketersediaan pasokan listrik sebagai salah satu faktor penting yang dipertimbangkan pengembang dalam menentukan lokasi dan kecepatan pembangunan fasilitas data center.
Kelompok teknologi global Wärtsilä menilai keterbatasan kapasitas jaringan dan lamanya waktu koneksi listrik dapat menjadi tantangan bagi pengembangan data center, terutama ketika kebutuhan listrik tumbuh lebih cepat dibandingkan kesiapan infrastruktur kelistrikan.
General Manager Market Development Middle East and Asia Wärtsilä Energy Patrik Farkas mengatakan, kecepatan memperoleh pasokan listrik kini hampir sama pentingnya dengan akses terhadap listrik bagi pengembang data center.
“Para pengembang semakin menilai infrastruktur energi sebagai bagian strategis dari keputusan investasi mereka,” ujar Patrik, Rabu, 23 September.
Menurut Ptrick, salah satu opsi yang dapat digunakan untuk mengatasi keterbatasan jaringan adalah pembangkitan listrik di lokasi atau onsite generation. Pembangkit listrik modular berbasis mesin gas yang fleksibel dapat menyediakan pasokan listrik utama bagi data center di wilayah yang kapasitas jaringannya masih terbatas.
Kapasitas pembangkit tersebut juga dapat ditambah secara bertahap mengikuti pertumbuhan kebutuhan listrik pusat data.
“Pembangkitan listrik onsite yang dapat diskalakan memungkinkan proyek berjalan meskipun kapasitas jaringan terbatas, sambil tetap mempertahankan opsi untuk mengalihkan fungsi aset tersebut ketika sistem tenaga di sekitarnya berkembang,” kata Patrik.
Wärtsilä, lanjut dia, menilai pembangkit onsite tidak harus menjadi aset yang tidak terpakai ketika koneksi ke jaringan listrik telah tersedia. Aset tersebut dapat dialihkan fungsinya menjadi kapasitas penyeimbang maupun pembangkit beban puncak (peaking plant).
Dengan fungsi tersebut, pembangkit dapat membantu mengelola perubahan pasokan dan permintaan listrik sekaligus mendukung peningkatan pemanfaatan energi terbarukan dalam sistem kelistrikan.
Kebutuhan terhadap sistem listrik yang fleksibel juga semakin penting seiring ekspansi energi terbarukan di Indonesia. Berdasarkan RUPTL 2025–2034, Indonesia menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW hingga 2034, dengan 42,6 GW di antaranya berasal dari energi terbarukan.
Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi peningkatan permintaan listrik akibat industrialisasi, elektrifikasi, serta ekspansi infrastruktur digital dan pusat data.
Managing Director PT Wärtsilä Indonesia Ossi Ylinen mengatakan kondisi tersebut membuat sistem tenaga listrik perlu memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pola permintaan dan pasokan.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi dan digital. Dengan arsitektur sistem tenaga yang tepat, Indonesia dapat memperkuat ketahanan energi, mengintegrasikan lebih banyak energi bersih secara signifikan, serta menyediakan fondasi yang andal untuk memenuhi kebutuhan energi masa depan,” ujarnya.
Wärtsilä sendiri menyebut telah menjual proyek-proyek terkait pusat data dengan total kapasitas lebih dari 2,4 GW di Amerika Serikat dan Eropa. Untuk kawasan Asia, perusahaan mengidentifikasi Indonesia, Malaysia, Jepang, dan Australia sebagai pasar yang memiliki peluang jangka menengah hingga panjang untuk solusi kelistrikan pusat data.
Di Indonesia, solusi tersebut dinilai relevan karena pembangunan data center dapat berlangsung di tengah proses pengembangan jaringan listrik dan meningkatnya kebutuhan energi terbarukan.
Energy Solutions Director PT Wärtsilä Indonesia Febron Siregar mengatakan transisi energi dan pertumbuhan digital Indonesia berlangsung secara bersamaan. Karena itu, pembangunan infrastruktur energi perlu mempertimbangkan kebutuhan kedua sektor tersebut.
“Peluangnya terletak pada pengembangan infrastruktur yang mampu mendukung keduanya. Akses terhadap pasokan listrik yang andal dapat membuka investasi digital, sementara aset energi yang adaptif dapat terus memberikan nilai saat jaringan berkembang dan bauran pembangkitan berubah,” ujar Febron.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
