JAKARTA — Ilmuwan Jepang tengah mempersiapkan misi ambisius untuk menjelajahi bulan-bulan Mars dan membawa pulang sampel material dari permukaannya. Misi tersebut diharapkan dapat membantu mengungkap proses pembentukan Tata Surya sekaligus memberikan petunjuk mengenai bagaimana kehidupan dapat muncul di Bumi.
Misi tanpa awak bernama Martian Moons eXploration (MMX) itu dijadwalkan meluncur dari Pusat Antariksa Tanegashima dalam beberapa bulan mendatang. Selain untuk kepentingan penelitian, misi tersebut juga diharapkan menjadi langkah penting dalam pengembangan teknologi yang dapat mendukung misi berawak ke Mars pada masa depan.
Dikutip AFP, Minggu 16 Agustus, wahana MMX direncanakan berada di sekitar Mars selama sekitar tiga tahun. Salah satu tugas utamanya adalah mendarat di Phobos, satu dari dua bulan Mars, untuk mengumpulkan sedikitnya 10 gram material dari permukaannya.
Eksplorasi di Phobos akan didukung rover bernama IDEFIX. Nama tersebut terinspirasi dari karakter anjing dalam komik Asterix. Rover itu akan membantu melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi permukaan Phobos.
Selain Phobos, MMX juga akan mengamati Deimos, bulan Mars lainnya. Namun, wahana tersebut tidak akan melakukan pendaratan di Deimos dan hanya melakukan pengamatan dari jarak tertentu.
Setelah misi pengamatan dan pengambilan sampel selesai, kapsul yang membawa material dari Phobos akan memisahkan diri dari wahana dan melakukan perjalanan kembali ke Bumi. Kapsul tersebut diperkirakan mendarat di wilayah gurun Australia sekitar 2031.
Menguji Teori Asal-usul Bulan Mars
Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) berharap MMX dapat membantu menjawab sejumlah pertanyaan mendasar mengenai asal-usul Mars dan kedua bulannya.
Saat ini terdapat dua teori utama mengenai pembentukan Phobos dan Deimos. Teori pertama adalah giant impact yang menyebut kedua bulan tersebut terbentuk dari material hasil benturan benda langit berukuran besar dengan Mars.
Teori kedua adalah capture, yang menyatakan Phobos dan Deimos merupakan asteroid yang kemudian tertangkap oleh gravitasi Mars.
Sampel yang dibawa pulang dari Phobos diharapkan dapat membantu ilmuwan menentukan teori yang paling sesuai. Jawaban tersebut dinilai penting untuk memahami proses pembentukan planet berbatu di Tata Surya, termasuk Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.
Penelitian itu juga dapat memberikan gambaran mengenai kondisi awal lingkungan planet-planet tersebut serta proses geologis yang berlangsung miliaran tahun lalu.
Pakar astrofisika asal Prancis yang terlibat dalam proyek IDEFIX, Patrick Michel, mengatakan Phobos dan Deimos kemungkinan menyimpan material purba yang berasal dari masa awal Tata Surya.
Material tersebut diduga dapat memberikan informasi mengenai keberadaan air, zat volatil, dan senyawa organik yang mungkin berperan dalam perkembangan lingkungan yang mendukung kehidupan di planet-planet berbatu, termasuk Bumi.
Persiapan Misi Manusia ke Mars
Selain kepentingan ilmiah, JAXA juga memanfaatkan MMX untuk menguji berbagai teknologi yang diperlukan dalam perjalanan antara Bumi dan Mars.
Penguasaan teknologi penerbangan antariksa jarak jauh dan perjalanan pulang-pergi tersebut dinilai penting untuk mendukung rencana eksplorasi manusia ke Mars pada masa depan. Phobos bahkan dipertimbangkan sebagai salah satu lokasi potensial untuk mendukung aktivitas manusia dalam eksplorasi Mars.
MMX merupakan proyek kolaborasi internasional yang melibatkan sejumlah badan antariksa, termasuk Centre National d’Études Spatiales (CNES) dari Prancis, German Aerospace Center (DLR), NASA, dan European Space Agency (ESA). Proyek tersebut juga melibatkan puluhan universitas dan perusahaan teknologi.
Salah satu tantangan teknis utama dalam misi tersebut adalah merancang sistem pendaratan yang mampu beroperasi di Phobos. Bulan Mars itu memiliki gravitasi yang sangat rendah sehingga wahana harus dirancang secara khusus agar dapat mendarat dan beroperasi dengan aman di permukaannya.
Jepang memiliki pengalaman dalam misi pengambilan sampel benda langit. Melalui Hayabusa2, JAXA berhasil membawa pulang sampel asteroid Ryugu ke Bumi pada 2020. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam persiapan MMX.
Namun, Jepang bukan satu-satunya negara yang tengah mengembangkan misi pengambilan sampel dari Mars dan lingkungan sekitarnya. China juga telah mengumumkan misi Tianwen-3 yang direncanakan meluncur sekitar 2028 dengan tujuan membawa sampel dari Mars ke Bumi pada sekitar 2031.
Persaingan tersebut menambah dinamika eksplorasi Mars dan benda-benda langit di sekitarnya. Bagi Jepang, MMX bukan hanya misi untuk mengambil sampel dari Phobos, tetapi juga upaya membuka lebih jauh rahasia pembentukan Tata Surya dan mempersiapkan teknologi untuk era eksplorasi manusia ke Mars.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
