JAKARTA – Memasuki usia 40 tahun, perubahan tubuh sering kali mulai terasa. Selain munculnya garis halus di wajah hingga stamina yang mulai menurun, ada satu perubahan fisik lain yang kerap diabaikan, yaitu penurunan kemampuan penglihatan.
Banyak orang menganggap mata yang makin sulit membaca tulisan kecil atau pandangan yang membayang sebagai hal wajar akibat penuaan. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi indikasi presbiopia atau mata tua yang memerlukan penanganan tepat.
Fenomena gangguan penglihatan pada kelompok usia rentan ini menjadi perhatian serius, terutama menjelang momentum Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day 2026.
Berdasarkan estimasi Rapid Assessment on Avoidable Blindness (RAAB) dari WHO Indonesia, sekitar 15 juta penduduk Indonesia berusia 50 tahun ke atas mengalami gangguan penglihatan. Katarak dan kelainan refraksi tercatat sebagai penyebab utama dari tingginya angka tersebut
.
Refraksionis Optisien dari Optik 99K, Suhadi, Amd.RO, menjelaskan bahwa presbiopia umumnya mulai mengintai saat seseorang menginjak usia kepala empat.
Gejala awal biasanya ditandai dengan kebiasaan menjauhkan ponsel atau buku agar tulisan terlihat lebih jelas, hingga membutuhkan pencahayaan yang lebih terang saat membaca.
“Pesan utamanya adalah agar masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan penglihatan, tidak menunggu sampai mengalami gangguan baru melakukan pemeriksaan mata,” kata Sihadi melalui keterangan tertulis, Kamis, 15 Oktober.
“Sejalan dengan tema talkshow kita mengenai lensa progresif, kami juga ingin mengedukasi masyarakat bahwa perubahan penglihatan seiring bertambahnya usia merupakan hal yang perlu diperhatikan,” tambahnya.
Suhadi menambahkan bahwa masyarakat sering kali membiarkan penurunan fungsi penglihatan tanpa tahu solusi koreksi yang tepat.
“Dengan pemeriksaan mata yang tepat, kita dapat mengetahui kebutuhan koreksi penglihatan dan memilih solusi yang sesuai, termasuk lensa progresif bagi mereka yang membutuhkannya. Jadi, pesan yang ingin kami sampaikan adalah jangan menganggap penglihatan yang mulai menurun sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja. Kenali gejalanya, periksakan mata secara rutin, dan jaga kesehatan penglihatan sejak dini,” tegasnya.
Untuk menjaga kesehatan organ penglihatan di tengah gempuran paparan gawai dan penuaan alami, Suhadi membagikan tips sederhana seperti menerapkan aturan 20-20-20. Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek berjarak 6 meter selama 20 detik. Selain itu, asupan gizi seimbang seperti sayuran hijau kaya lutein serta buah ber-vitamin C dan beta-karoten turut membantu menjaga kestabilan fungsi mata.
Menjawab kebutuhan akses kesehatan penglihatan masyarakat, Holywings Peduli pun menggelar aksi sosial pemeriksaan mata dan pembagian kacamata gratis bagi warga Karet Kuningan di Superhouse Satrio. Aksi nyata ini digelar berdekatan dengan momen World Sight Day yang diperingati setiap Kamis pekan kedua Oktober.
Komisaris Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program CSR Holywings Peduli, Andrew Susanto, mengungkapkan pentingnya memanfaatkan momentum global ini untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat luas.
“Kami melihat momentum World Sight Day sebagai kesempatan untuk mengingatkan masyarakat bahwa kesehatan mata tidak kalah penting dengan kesehatan tubuh lainnya. Karena itu, kami ingin memperingatinya dengan kegiatan yang manfaatnya bisa langsung dirasakan warga, yaitu pemeriksaan mata dan pemberian kacamata gratis,” ujar Andrew.
Andrew juga menekankan bahwa pemeriksaan mata secara berkala sangat krusial agar penurunan penglihatan pada kelompok lanjut usia tidak dibiarkan begitu saja tanpa solusi.
“Terutama bagi lansia, perubahan penglihatan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang wajar karena faktor usia. Padahal, pemeriksaan tetap penting untuk mengetahui kondisi mata. Kami berharap kegiatan ini bisa memberikan edukasi sekaligus membantu warga yang membutuhkan kacamata agar dapat beraktivitas dengan lebih nyaman,” pungkasnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
