BRIN Kejar Teknologi Pemurnian, Mineral Kritis Bisa Bernilai 40 Kali Lipat


JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional ingin Indonesia tidak berhenti sebagai penambang mineral kritis. Lembaga itu sedang membangun teknologi pengolahan yang diklaim dapat menaikkan nilai tambah hingga sekitar 40 kali lipat.

Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan hal tersebut usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis, 6 Agustus.

Menurut Arif, BRIN membangun kemampuan pengolahan mineral kritis dari tahap pencarian sumber, ekstraksi, pemisahan, hingga pemurnian.

“Yang sedang kita kejar bukan sekadar menambang, tetapi menguasai tahapan yang menentukan nilai strategis dan nilai ekonominya,” kata Arif.

Mineral kritis adalah bahan tambang yang penting bagi industri dan teknologi, tetapi pasokannya terbatas atau rentan terganggu. Mineral jenis ini banyak digunakan untuk baterai, kendaraan listrik, energi bersih, elektronik, dan pertahanan.

Arif mengatakan unit pengolahan yang disiapkan BRIN dirancang memiliki kapasitas sedikitnya 1.000 ton bahan baku per tahun.

Menurut perhitungan BRIN, pengolahan tersebut berpotensi meningkatkan nilai tambah hingga sekitar 40 kali lipat. Namun, Arif belum memerinci jenis mineral yang akan diolah, lokasi fasilitas, kebutuhan investasi, maupun waktu mulai beroperasi.

Penguasaan teknologi pengolahan menjadi bagian penting dalam hilirisasi. Nilai ekonomi mineral tidak hanya ditentukan saat ditambang, tetapi juga ketika dipisahkan, dimurnikan, dan diolah menjadi bahan yang siap digunakan industri.

BRIN menilai tahapan tersebut perlu dikuasai agar Indonesia tidak terus bergantung pada teknologi pengolahan dari luar negeri.

Arif juga mengatakan BRIN akan mempertemukan hasil riset dengan kebutuhan pemerintah dan industri. Langkah itu diperlukan agar teknologi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai proyek laboratorium.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *