JAKARTA – Menonton pertunjukan musik sering kali membuat perhatian tertuju pada penyanyi atau musisi yang tampil di atas panggung. Penonton menikmati lagu, ikut bernyanyi, atau merekam momen favorit melalui ponsel. Namun, ada banyak hal yang bekerja di balik layar agar pengalaman tersebut dapat berlangsung dengan baik.
Sebuah pertunjukan musik tidak hanya membutuhkan musisi dan penyanyi. Ada tim yang mengatur tata suara, pencahayaan, visual, hingga berbagai peralatan yang digunakan selama acara berlangsung. Semua bagian tersebut bekerja bersama untuk menciptakan suasana yang sesuai dengan konsep pertunjukan.
Ketua Umum Asosiasi Penggiat Peralatan Audio Video dan Musik Indonesia (ARAVMI), Hendry Kaihatu mengatakan luasnya ekosistem tersebut menunjukkan industri musik memiliki kontribusi yang lebih besar dari yang selama ini terlihat.
“Industri musik ini sebenarnya besar. Ekosistemnya tidak hanya berbicara tentang pertunjukan, artis, penyanyi, musisi, dan pencipta lagu, tetapi juga mencakup penyedia peralatan, produsen lokal, rental, event, hingga pendidikan,” kata Hendry saat ditemui di Krista Business Center Group, Gandaria City, Jakarta Selatan pada Jumat, 24 Juli 2026.
“Kalau seluruh ekosistem ini bisa memberikan data secara bersama-sama dan holistik kepada BPS, saya kira nilai industri musik yang tercatat bisa jauh lebih besar dari data yang ada saat ini,” lanjutnya.
Menurut Hendry, industri musik perlu mendapat perhatian lebih luas karena memiliki peran penting dan turut membuka lapangan pekerjaan.
“Industri musik perlu terus kita dorong agar semakin mendapat perhatian. Perhatian tidak seharusnya hanya tertuju pada industri elektronik, makanan, atau minuman, karena industri musik juga memiliki peran dan kontribusi yang besar,” tutur Hendry.
Dari sisi industri peralatan musik, Hendry membagi ekosistem tersebut ke dalam beberapa bagian yang saling berkaitan.
“Dari sisi ekosistem, industri peralatan musik terbagi menjadi lima bagian besar, yaitu penyedia peralatan, industri performing, rental, event, dan pendidikan. Kelima bagian ini saling berkaitan dan menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan industri musik di Indonesia,” jelas Hendry.
Saat menyaksikan pertunjukan musik, perhatian penonton biasanya tertuju pada musisi yang berada di atas panggung. Padahal, kualitas suara, pencahayaan, dan visual turut menentukan pengalaman yang dirasakan.
Head of Judge Sing Out Loud, David Klein menjelaskan audio dan visual merupakan dua elemen yang saling melengkapi dalam sebuah pertunjukan.
“Untuk sebuah pameran profesional audio, video, dan lighting, kita membutuhkan stage performance dengan audio dan visual yang baik. Kalau lighting dan audio yang digunakan bagus, tentu pengalaman visualnya juga akan semakin sempurna. Visual saja sebenarnya kurang menarik jika tidak didukung oleh audio yang baik,” kata David.
Menurut David, pemahaman mengenai kualitas suara juga menjadi hal penting dalam industri profesional audio.
“Pameran profesional audio visual memiliki karakter yang berbeda dengan exhibition lainnya. Salah satu hal yang ingin kami dorong adalah bagaimana para pelaku industri, khususnya audio, bisa lebih memahami pentingnya kualitas suara,” beber David.
“Kalau tidak ada yang perlu dibunyikan, mengapa harus dibunyikan? Ketika beberapa booth menyalakan audio secara bersamaan, pengunjung justru akan kesulitan mendengarkan dan memahami produk yang sedang didemonstrasikan,” tambahnya.
David berharap industri audio visual dapat terus berkembang sekaligus meningkatkan standar profesionalismenya.
“Kami ingin terus melakukan upgrade dan mendewasakan industri profesional audio. Kami berharap pameran ini bisa menjadi ruang untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme para pelaku industri, sehingga pengalaman pengunjung maupun peserta pameran menjadi lebih baik,” imbuh David.
Selain teknologi dan perangkat pendukung, regenerasi talenta juga menjadi bagian penting dalam keberlanjutan industri musik. Kompetisi menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengasah kemampuan sekaligus mengenal dunia profesional.
Head of Judge Drum Competition, Harry Murti mengatakan kompetisi drum tidak hanya bertujuan mencari pemenang, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendukung ekosistem musik.
“Konsep Drum Battle Competition ini sebenarnya merupakan pelengkap untuk pameran profesional audio visual. Kami melihat bahwa acara ini memiliki potensi untuk bertaraf internasional. Karena itu, kami mempersiapkannya dengan dukungan dari sejumlah pihak, termasuk Percussive Arts Society yang merupakan salah satu asosiasi perkusi terbesar di dunia,” papar Harry.
Kompetisi ini juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan pengalaman dan dukungan dalam mengembangkan kemampuan mereka.
Harry menilai generasi muda membutuhkan ruang untuk bertemu dengan sosok yang dapat menjadi inspirasi sekaligus memberikan gambaran tentang dunia profesional.
“Para juri yang kami pilih merupakan orang-orang muda yang berprestasi dan kompeten di bidangnya. Mereka juga merupakan pelaku industri yang dapat menjadi acuan bagi generasi milenial dan Gen Z. Kami ingin memberikan ruang kepada generasi muda di industri musik Indonesia agar mereka bisa terinspirasi, termotivasi, sekaligus belajar membangun sikap profesional,” tutur Harry.
Perkembangan industri musik juga tidak terlepas dari peran produk dan pelaku usaha lokal. Sejumlah produsen dalam negeri mulai mengambil bagian dalam menyediakan berbagai kebutuhan industri musik dan audio visual.
Owner Krista Exhibitions, Daud D. Salim mengatakan kehadiran produk lokal menjadi salah satu hal yang ditampilkan dalam pameran tahun ini.
“Pameran ini menjadi menarik karena selain menghadirkan produk dan teknologi profesional audio, video, dan lighting, tahun ini juga ada kompetisi drum serta kompetisi Sing Out Loud. Kami juga menampilkan produk dalam negeri, termasuk produk dari industri kecil dan menengah, seperti gitar, alat-alat musik, dan casing alat musik. Ada juga sekolah musik serta berbagai peralatan audio dan lainnya.” ucapnya.
Berbagai perkembangan tersebut menjadi bagian dari ekosistem yang diperkenalkan dalam PRO AVL Indonesia 2026. Pameran internasional untuk industri audio, visual, lighting, dan musik ini memasuki penyelenggaraan kelima dan akan berlangsung pada 28–31 Juli 2026 di NICE PIK 2, Tangerang.
Pameran ini menghadirkan sekitar 60 brand internasional dari 12 negara dan diselenggarakan bersamaan dengan Music Indonesia Expo 2026. Selain mempertemukan produsen, distributor, integrator sistem, profesional, dan komunitas kreatif, acara ini juga menghadirkan berbagai kegiatan hiburan dan edukasi.
Salah satunya adalah Grand Final SING OUT LOUD 2026 yang mempertemukan 49 finalis dari lebih dari 100 peserta audisi. Kompetisi ini terbagi dalam tiga kategori, yaitu Pop (Pre-Teens & Teen/Adult), Musical, dan Classical.
Pengunjung juga dapat menyaksikan Drum Battle Competition bersama APAVMI (Asosiasi Pengusaha Audio Video Musik Indonesia), penampilan Komunitas Gitar, serta seminar mengenai Pemberlakuan dan Pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI) Audio Video Secara Wajib yang menghadirkan Kementerian Perindustrian RI dan asosiasi terkait.
Bagi masyarakat yang tertarik pada musik, teknologi, dan dunia kreatif, pameran ini dapat menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat bagaimana sebuah pertunjukan musik dibangun dari berbagai elemen, mulai dari alat musik, sistem suara, visual, dan pencahayaan hingga talenta yang tampil di atas panggung.
Sementara bagi para profesional dan pelaku industri, acara ini dapat menjadi ruang untuk memperluas jaringan, mengenal perkembangan teknologi, serta bertemu dengan berbagai pihak yang terlibat dalam ekosistem audio visual dan musik.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
