JAKARTA — Pemerintah bergerak cepat merespons anjloknya harga telur dan ayam hidup di tingkat peternak yang dalam beberapa pekan terakhir memicu keluhan dari sentra-sentra produksi unggas di berbagai daerah.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah meningkatkan penyerapan telur dan daging ayam melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah telah berkoordinasi langsung dengan BGN untuk meningkatkan frekuensi penyajian telur dan ayam dalam menu MBG. Langkah ini diharapkan dapat menyerap surplus produksi yang selama ini menekan harga di tingkat peternak.
“Kami langsung telepon Kepala BGN, menyampaikan kalau bisa dalam satu minggu, biasanya konsumsi telur satu kali, bisa menjadi tiga kali, termasuk ayam,” ujar Amran usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis 18 Juni.
Menurut Amran, usulan tersebut telah mendapat respons positif dari BGN dan diharapkan dapat membantu mengangkat harga yang sempat terpuruk dalam beberapa bulan terakhir.
“Sehingga harga mulai merangkak naik, dan itu kita sepakati semua,” katanya.
Langkah pemerintah ini dilakukan setelah harga telur di tingkat peternak mengalami penurunan tajam akibat kelebihan pasokan dan lemahnya penyerapan pasar.
Data Badan Pangan Nasional menunjukkan harga telur ayam ras di tingkat produsen turun dari Rp27.236 per kilogram pada Maret menjadi sekitar Rp24.424 per kilogram pada awal Juni 2026. Bahkan di sejumlah sentra produksi, harga sempat berada jauh di bawah biaya produksi peternak.
Di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yang merupakan salah satu sentra telur terbesar nasional, harga telur di kandang dilaporkan sempat menyentuh Rp20.600 per kilogram. Angka tersebut berada di bawah harga pokok produksi yang diperkirakan mencapai sekitar Rp23.000 per kilogram, sehingga banyak peternak mengalami kerugian.
Kondisi itu bahkan mendorong aksi protes peternak dengan membagikan jutaan butir telur secara gratis kepada masyarakat.
Tekanan harga serupa juga terjadi di sejumlah sentra peternakan lain. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam pertemuan antara pemerintah dan peternak pada awal Juni, harga telur di beberapa wilayah sempat berada di kisaran Rp21.000 hingga Rp22.000 per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.
Merespons kondisi tersebut, Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan Nasional telah menetapkan HAP telur ayam ras di tingkat peternak sebesar Rp26.500 per kilogram.
Pemerintah juga melibatkan Satgas Pangan Polri untuk mengawal implementasi harga acuan tersebut agar peternak tidak semakin dirugikan akibat permainan harga di tingkat perantara.
Selain meningkatkan penyerapan melalui MBG, Amran mengungkapkan pihaknya telah mengumpulkan para peternak ayam petelur dan ayam pedaging dari berbagai daerah untuk membahas langkah-langkah stabilisasi pasar.
“Kami mengumpulkan peternak-peternak untuk ayam dan telur, kami kumpulkan, kami diskusi. Kemudian memberikan beberapa solusi,” ujarnya.
Pemerintah berharap peningkatan konsumsi telur dan ayam melalui program MBG dapat menjadi instrumen efektif untuk menyerap surplus produksi nasional sekaligus menjaga harga di tingkat peternak tetap menguntungkan.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat produksi telur nasional saat ini berada dalam kondisi surplus, sementara daya serap pasar belum mampu mengimbangi peningkatan pasokan yang terjadi sepanjang tahun 2026.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
