JAKARTA – Harga minyak kembali naik lebih dari 1 persen pada Kamis. Pasar masih menunggu arah pembicaraan damai Amerika Serikat dan Iran, sementara pasokan yang ketat dan turunnya stok minyak AS ikut menahan harga tetap tinggi.
Melansir laporan Arab News, Kamis, 21 Mei, harga minyak mentah Brent naik 1,27 dolar AS atau 1,21 persen menjadi 106,29 dolar AS per barel pada pukul 09.18 waktu Saudi. Minyak West Texas Intermediate atau WTI AS naik 1,29 dolar AS atau 1,31 persen menjadi 99,55 dolar AS per barel.
Kenaikan ini terjadi sehari setelah dua harga acuan minyak itu anjlok lebih dari 5,6 persen. Penurunan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran sudah memasuki tahap akhir.
Namun, Trump juga mengancam serangan lanjutan jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan damai. Ancaman itu membuat pasar kembali berhati-hati.
Analis ING, bank dan lembaga jasa keuangan asal Belanda, menyebut pasar minyak masih sangat sensitif terhadap kabar terkait Iran. Pelaku pasar, menurut mereka, masih menaruh harapan besar pada laporan kemajuan pembicaraan AS-Iran.
“Kami sudah berkali-kali berada dalam situasi seperti ini, yang pada akhirnya berujung pada kekecewaan,” tulis analis ING. Mereka memperkirakan rata-rata harga Brent berada di 104 dolar AS per barel pada kuartal ini.
Iran sebelumnya memperingatkan serangan lebih lanjut dan mengumumkan langkah untuk memperkuat kendali atas Selat Hormuz. Jalur ini penting karena sebelum perang menjadi rute pengiriman minyak dan gas alam cair setara sekitar 20 persen konsumsi global.
Pada Rabu, Iran mengumumkan pembentukan “Otoritas Selat Teluk Persia” dan menyebut akan ada “zona maritim terkendali” di Selat Hormuz.
Arab News melaporkan, Iran secara efektif menutup selat itu sebagai respons atas serangan AS dan Israel yang memicu perang pada 28 Februari. Sebagian besar pertempuran berhenti sejak gencatan senjata April. Namun, Iran masih membatasi lalu lintas melalui Hormuz, sementara AS memblokade garis pantai Iran.
Gangguan pasokan dari kawasan produsen utama di Timur Tengah memaksa sejumlah negara menarik cadangan minyak komersial dan strategis lebih cepat. Kekhawatirannya Adalah cadangan bisa makin terkuras.
Administrasi Informasi Energi AS atau EIA menyatakan Amerika Serikat menarik hampir 10 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve, cadangan minyak strategis pemerintah, pada pekan lalu. Itu menjadi penarikan terbesar sepanjang pencatatan.
Data EIA juga menunjukkan stok minyak mentah AS turun lebih besar dari perkiraan pada pekan lalu.
“Penurunan persediaan minyak akan membuat harga minyak sulit bertahan rendah,” kata Mingyu Gao, peneliti utama energi dan kimia di China Futures.
Menurut Gao, dengan Selat Hormuz terblokade, persediaan produk olahan dan minyak mentah darat global diperkirakan turun di bawah level terendah untuk periode yang sama dalam lima tahun terakhir pada akhir Mei dan akhir Juni.
