Waspadai Scroll Tanpa Henti, Literasi Kritis Jadi Makin Penting di Era Digital


JAKARTA – Kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat bahkan berpindah-pindah konten alias doomscrolling sudah bukan lagi hal asing dalam keseharian masyarakat di era digital.

Namun, semakin sering seseorang terpapar informasi tidak selalu berarti semakin baik pula kemampuannya dalam memahami informasi. Apalagi di tengah derasnya konten yang muncul setiap hari, kemampuan untuk berhenti sejenak dan berpikir kritis justru menjadi semakin penting.

Iin Indrayanti, M.Pd., Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Harkat Negeri, melihat persoalan literasi saat ini tidak cukup hanya diukur dari seberapa sering seseorang membaca atau seberapa banyak informasi yang dikonsumsi.

“Masalah utamanya bukanlah kurangnya minat baca, melainkan kapasitas kita untuk berpikir kritis terhadap apa yang kita baca. Di era yang dibentuk oleh algoritma canggih, kemampuan membedakan fakta dan opini manipulatif adalah keterampilan bertahan hidup yang esensial,” ujar Iin Indrayanti dalam keterangannya kepada VOI, Rabu, 7 Oktober.

Kebiasaan scroll tanpa henti membuat informasi hadir dalam waktu yang sangat singkat. Satu unggahan bisa langsung berganti dengan video, komentar, iklan, atau berita lain. Dalam situasi seperti ini, tidak semua informasi mendapat perhatian yang cukup untuk diperiksa kebenaran dan konteksnya.

Persoalannya menjadi semakin kompleks ketika informasi datang dari orang yang dikenal. Pesan di grup keluarga atau pertemanan, misalnya, bisa terasa lebih mudah dipercaya hanya karena dikirim oleh seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Padahal, sumber awal informasi tersebut belum tentu jelas.

Karena itu, literasi kritis semakin relevan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga kebiasaan mempertanyakan sumber, memahami konteks, membedakan fakta dan opini, serta tidak terburu-buru membagikan informasi sebelum mengetahui kebenarannya.

Kebiasaan sederhana seperti berhenti beberapa detik sebelum menekan tombol share dapat menjadi bagian dari perilaku digital yang lebih bertanggung jawab.

Tantangan literasi juga tidak lagi terbatas pada tulisan. Perkembangan teknologi membuat masyarakat semakin sering berhadapan dengan video, gambar, iklan, dan berbagai konten yang dapat dikemas sedemikian rupa untuk menarik perhatian. Termasuk di dalamnya konten yang dibuat atau dimanipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

Di tengah kondisi tersebut, kemampuan memahami informasi perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Sekadar bisa menemukan informasi di internet tidak cukup jika seseorang tidak mampu menilai apakah informasi tersebut dapat dipercaya atau justru berpotensi menyesatkan.

Kebiasaan ini juga penting dikenalkan sejak usia sekolah. Materi pembelajaran dapat mengambil contoh dari lingkungan yang dekat dengan kehidupan anak dan remaja, seperti berita, iklan, unggahan media sosial, hingga kampanye publik.

Dengan begitu, literasi tidak berhenti sebagai materi pelajaran, tetapi menjadi keterampilan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *