Rupiah Menguat ke Rp17.894 per Dolar AS Rabu Sore, Intervensi BI Jadi Penopang


JAKARTA – Nilai tukar rupiah menguat pada penutupan perdagangan Rabu, 30 September. Rupiah ditutup di level Rp17.894 per dolar AS, naik 87 poin atau 0,48 persen dari penutupan sebelumnya Rp17.981 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi setelah mata uang Garuda sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS. Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai intervensi Bank Indonesia ikut menopang pergerakan rupiah.

“BI tetap konsisten melakukan intervensi setelah rupiah sempat menembus Rp18.000 per dolar AS,” kata Amru, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 30 September.

Bank Indonesia menegaskan intervensi di pasar valas tetap dilakukan mengikuti dinamika pasar.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G Hutapea mengatakan komposisi intervensi spot sekitar 30 persen merupakan pola historis dan bukan target tetap.

Menurut Erwin, penggunaan instrumen spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF) kini lebih berimbang seiring pengembangan pasar valas domestik. Namun, hal itu tidak berarti porsi intervensi spot akan dikurangi.

Di luar faktor domestik, tekanan global masih membayangi rupiah. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,27 persen, sementara dolar AS bergerak mendekati level tertinggi tahun ini.

Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar tetap menarik dan memberi tekanan pada mata uang regional.

Meski begitu, pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams bahwa belum ada urgensi menaikkan kembali suku bunga memberi sedikit ruang bagi pasar untuk mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Faktor lain yang menopang rupiah datang dari harga minyak dunia yang turun cukup tajam.

Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan penurunan harga minyak dipicu membaiknya pasokan dari Timur Tengah.

“Penguatan ini didukung oleh harga minyak dunia yang turun cukup besar oleh berita bahwa Arab Saudi melanjutkan kembali setengah dari ekspor minyak mentah melalui jalur pipa Timur-Barat,” kata Lukman.

Menurut Anadolu yang dikutip Antara, harga minyak melemah setelah sebagian ekspor Arab Saudi melalui jalur pipa Timur-Barat kembali berjalan usai perbaikan kerusakan akibat serangan pesawat nirawak. Peningkatan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz juga meredakan kekhawatiran pasar soal pasokan.

Harga minyak Brent turun 2,8 persen atau 2,94 dolar AS menjadi 102,35 dolar AS per barel. Sementara WTI turun 3,5 dolar AS atau 3,8 persen menjadi 89 dolar AS per barel.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI pada Rabu juga menguat ke Rp17.877 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.998 per dolar AS.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *