Awan Hujan Sulit Terbentuk, BMKG Siapkan Pesawat Pemadam Karhutla di Enam Provinsi


JAKARTA – Operasi modifikasi cuaca untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghadapi kendala akibat minimnya awan hujan saat puncak kemarau. BMKG bersama BNPB dan Kementerian Kehutanan telah menyiapkan pesawat di enam provinsi prioritas untuk patroli dan operasi modifikasi cuaca jika kondisi memungkinkan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan rendahnya potensi pembentukan awan membuat operasi modifikasi cuaca tidak bisa dilakukan setiap saat. Karena itu, penguatan pemadaman langsung di darat juga diperlukan.

“Karena sekarang untuk operasi modifikasi cuaca ini cukup sulit karena potensi awan konvektif itu sangat rendah di puncak-puncak musim kemarau ini, sehingga operasi modifikasi cuaca ini sangat situasional,” kata Faisal di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 24 September.

Enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.

Faisal menjelaskan, penanganan karhutla melalui udara dilakukan dengan dua cara, yakni operasi modifikasi cuaca dan pemadaman menggunakan pesawat atau water bombing.

Saat tidak terdapat awan yang memungkinkan operasi modifikasi cuaca, pesawat yang telah disiagakan digunakan untuk patroli.

“Apabila ada potensi awan, itu segera berubah menjadi modifikasi cuaca,” ujarnya.

Selain operasi udara, pemerintah tengah memperkuat satuan tugas darat untuk melakukan pemadaman langsung di lokasi kebakaran.

BMKG juga menyiapkan data untuk mendukung pengelolaan lahan gambut. Faisal menyebut lembaganya memiliki 10.800 peralatan observasi utama yang tersebar di seluruh Indonesia.

Peralatan tersebut memungkinkan BMKG memberikan informasi mengenai ketersediaan air di kawasan gambut, termasuk wilayah yang mengalami kekurangan air selama musim kemarau.

Data itu juga dapat digunakan untuk memberikan masukan mengenai jenis tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan.

Menurut Faisal, gambut dangkal dengan kedalaman kurang dari satu meter memiliki karakteristik berbeda dibandingkan gambut yang lebih dalam. Kondisi setiap lokasi juga perlu diperhitungkan sebelum menentukan jenis tanaman yang cocok.

“Daerah mana yang ketersediaan airnya cukup pada bulan-bulan kering seperti ini, mana yang kurang, itu secara detail juga kita bisa berikan,” katanya.

Faisal menyampaikan hal tersebut menjelang rapat di Istana Kepresidenan yang dijadwalkan membahas pemanfaatan dan pengelolaan lahan gambut.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *