JAKARTA – Bursa saham Asia mayoritas menguat pada awal perdagangan Jumat, mengikuti reli Wall Street dan penurunan harga minyak. Penguatan terjadi ketika Bank of Japan dan Federal Reserve sama-sama menaikkan suku bunga pada pekan ini.
Menurut Euronews, dikutip Jumat, 18 September, indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,9 persen menjadi 65.332,57 setelah Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1,25 persen dari 1,0 persen. Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam 31 tahun.
Kenaikan bunga BOJ sebelumnya sudah banyak diperhitungkan pasar. Langkah itu menyusul keputusan The Fed yang juga menaikkan suku bunga acuannya pada pekan ini.
Tekanan terhadap Jepang untuk menaikkan bunga juga datang dari Amerika Serikat di tengah kekhawatiran atas pelemahan yen. Amerika Serikat dan Jepang sebelumnya melakukan intervensi bersama untuk menopang yen, tetapi dampaknya belum besar.
Dolar AS pada perdagangan valuta asing naik menjadi 157,11 yen dari 155,95 yen. Sementara euro diperdagangkan pada 1,1487 dolar AS, naik tipis dari 1,1480 dolar AS.
Penguatan juga terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi melonjak 2,3 persen menjadi 6.866,83. Hang Seng Hong Kong naik hampir 0,7 persen menjadi 24.769,80, sedangkan Shanghai Composite menguat 1 persen menjadi 3.916,08.
S&P/ASX 200 Australia bergerak hampir datar dengan penurunan kurang dari 0,1 persen menjadi 8.731,50.
Penguatan di Asia mengikuti reli Wall Street yang membalik sebagian besar kerugian sehari sebelumnya. Penurunan harga minyak dan meredanya tekanan dari pasar obligasi ikut membantu saham AS bergerak naik.
S&P 500 naik 1,1 persen dan mencatat kenaikan kedua dalam sembilan hari perdagangan terakhir. Dow Jones Industrial Average menguat 316 poin atau 0,6 persen, sementara Nasdaq Composite naik 1,7 persen.
Wall Street mendapat dorongan setelah harga minyak Brent turun dari level hampir 110 dolar AS per barel yang sempat dicapai pada awal pekan. Sebelumnya, pasar khawatir perang dengan Iran akan menghambat aliran minyak dari Timur Tengah ke pasar global.
Dalam perdagangan Asia, Brent turun 0,94 persen menjadi 103,83 dolar AS per barel. Minyak mentah acuan AS melemah 0,83 persen menjadi 101,06 dolar AS per barel.
Meski turun, harga Brent masih jauh di atas sekitar 72 dolar AS per barel pada awal musim panas. Penurunan terbaru ikut menekan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menjadi 4,93 persen dari 5,01 persen pada Rabu malam.
The Fed pada Rabu menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin. Itu menjadi kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun.
Pejabat The Fed juga memberi sinyal peluang satu kali kenaikan bunga lagi tahun ini untuk menekan inflasi yang masih tinggi. Sinyal tersebut sempat membuat Wall Street bergerak tajam sebelum akhirnya kembali menguat.
Dari sisi positif bagi pasar, kenaikan bunga memperkuat keyakinan bahwa The Fed berkomitmen membawa inflasi kembali ke target 2 persen. Namun, bunga yang lebih tinggi pada saat yang sama dapat menekan valuasi saham dan aset investasi lain.
Pada penutupan, S&P 500 naik 85,95 poin menjadi 7.637,76. Dow Jones bertambah 316,14 poin menjadi 51.778,04, sedangkan Nasdaq Composite menguat 439,87 poin menjadi 26.418,30.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
