Komisi I DPR Minta Aparat Investigasi Pembunuhan Sopir di Papua



JAKARTA – Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta mengecam penembakan yang menewaskan seorang sopir asal Toraja, di jalur Wamena Mbua, Papua Pegunungan bermama Aris Sanda. Menurutnya, insiden ini merupakan ancaman serius terhadap keselamatan warga sipil.

“Apapun tuduhan terhadap korban, tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan pembunuhan di luar proses hukum. Keselamatan warga sipil harus menjadi prioritas utama,” ujar Sukamta, Jumat, 18 September.

Menurut Sukamta, kasus ini menunjukkan bahwa masyarakat sipil masih menghadapi ancaman nyata di wilayah konflik Papua, termasuk warga yang bekerja sebagai sopir dan melayani kebutuhan transportasi serta distribusi logistik masyarakat. Iapun meminta aparat keamanan melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap kronologi, pelaku, motif, serta memastikan proses hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab.

“Jangan sampai warga sipil menjadi korban karena tuduhan sepihak. Negara harus memastikan bahwa siapa pun yang melakukan kekerasan terhadap masyarakat sipil dapat diproses sesuai hukum,” tegasnya.

Sukamta juga meminta pemerintah meningkatkan deteksi dini dan perlindungan terhadap masyarakat sipil, khususnya pada jalur transportasi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

“Jangan hanya bergerak setelah terjadi penembakan. Pengamanan harus berbasis pencegahan, dengan memperkuat intelijen teritorial, deteksi dini, dan perlindungan masyarakat di titik-titik rawan,” jelas Sukamta.

Pimpinan Komisi Pertahanan DPR ini memandang ancaman terhadap sopir, pengemudi angkutan, pekerja, dan masyarakat yang melintas di wilayah rawan dapat mengganggu aktivitas ekonomi serta pelayanan dasar masyarakat Papua. Untuk itu, kata Sukamta, pencegahan harus dilakukan.

“Jangan sampai masyarakat takut bekerja, takut bepergian, atau takut melayani kebutuhan masyarakat lainnya. Negara harus hadir memberikan rasa aman,” kata politisi PKS tersebut.

Selain penegakan hukum, Sukamta juga mendorong pendekatan keamanan yang tetap menempatkan perlindungan masyarakat dan pembangunan kesejahteraan sebagai bagian penting dari penyelesaian persoalan Papua.

“Keamanan dan kesejahteraan tidak bisa dipisahkan. Masyarakat Papua membutuhkan ruang hidup yang aman agar aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik dapat berjalan,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Aris Sanda alias Tasya tewas ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) alias Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Korban sempat disandera sebelum ditembak mati di Wamena. Aris juga sempat dipaksa mendukung Papua merdeka yang direkam dalam sebuah video.

Pembunuhan sopir travel itu terjadi di jalur Trans Wamena-Nduga, Selasa, 15 September. Pembunuhan terjadi usai korban yang membawa penumpang dicegat di tengah jalan oleh pelaku.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat OPM mengklaim bertanggung jawab dan menyebut korban sebagai agen intelijen yang menyamar sebagai sopir. Namun, Satgas Operasi Damai Cartenz menegaskan klaim KKB yang menuduh korban merupakan aparat intelijen adalah kabar bohong. Korban merupakan warga sipil yang bekerja sebagai sopir angkutan lajur selama belasan tahun.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *