YOGYAKARTA – Para seniman dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura menampilkan dua pertunjukan baru yang mengangkat keterhubungan sejarah dan warisan budaya. Pertunjukan bertajuk“HU木AN” dan “Rumah dari Lidah” ini, menjadi puncak dari Embracing Shared Haritage Through Performing Arts, sebuah inisiatif yang dilaksanakan UNESCO yang bermitra dengan Temasek Foundation.
Menurut Head of Culture UNESCO Jakarta, karya seni kerap melintasi batas negara dengan cara yang tak terduga. Para senimannya, belum tentu memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dan berkarya bersama. Tambah Ibu Moe Chiba, “kami ingin memberi ruang bagi para seniman untuk bertemu, bertukar gagasan dan menciptakan karya baru dari warisan budaya yang menghubungkan mereka.”

James Chan sebagai Head of Programmes Officeand Resilient Societies, Temasek Foundation mengatakan, bahwa seni membuka ruang bagi orang-orang untuk berkumpul mengenal pengalaman yang berbeda, dan menemukan titik temu. Melalui kemitraan ini, berharap terjadi pertukaran yang dapat mempererat hubungan antarbudaya dan mendorong harmoni ditengah keberagaman kawasan.
Proses pertunjukan ini dilaksanakan selama empat bulan terakhir. Seniman dari ketiga negara —yang memiliki beragam sejarah, identitas, dan tradisi seni— bertukar gagasan dan menciptakan karya bersama untuk menggali makna dari ‘warisan budaya bersama’ di Asia Tenggara. Kolaborasi ini membuka kemungkinan baru dalam menafsirkan dan mengekspresikan warisan budaya melalui seni pertunjukan.
Pertunjukan “HU木AN” dipentaskan sebagai bagian dari Pesta Boneka pada 6 dan 7 Oktober di Kampung Media. Pentas ini, menggunakan pendekatan inklusif agar bisa diakses oleh beragam penonton termasuk penonton neurodivergen. “HU木AN” mengeksplorasi hubungan masyarakat dengan hutan sebagai ruang alam sekaligus budaya, melalui cerita, ingatan, kepercayaan, serta hubungan antar manusia dan alam.

Proyek “HU木AN” ini, menurut Luen dari The Artground (Singapura) dimulai dari proyek untuk museum internasional yang memiliki koleksi tentang kayu, rempah-rempah, hewan-hewan, bunga-bunga, dan banyak peristiwa yang bisa menghadirkan berbagai pengalaman lewat pertunjukan. Untuk proses pertunjukan di Indonesia, dimulai dari masterclass pada bulan April. Frankie (Sensorium Theatre, Australia) sebagai mentor dalam masterclass bercerita soal upaya membuat akses bagi anak-anak neurodivergen mengenal dunia lewat pertunjukan ini.
Dalam proses produksi artistik sangat tricky, sebab menurut Frankie, seniman membutuhkan keterampilan berdialog dan bernegosiasi tidak hanya secara verbal dan auditif, tetapi juga dengan berbagai cara. Termasuk dengan aspek yang dihadirkan dalam pertunjukan, seperti gestur, tekstur, aroma, dan rasa. Pertunjukan “HU木AN” juga menggunakan puppet atau boneka yang terbuat dari kemasan plastik bekas berbentuk badak buatan seniman visual dari Banten.
Pertunjukan “Rumah dari Lidah” digelar dalam Bedog Arts Festival pada 9 dan 10 Oktober di Studio Banjarmili. Petas ini, mengangkat tentang warisan budaya dan identitas Peranakan. Menurut sutradara pertunjukan ini, Melati Suryodarmo, identitas Peranakan yang ditampilkan menggambarkan budaya dari beragam perspektif, pengalaman, potongan sejarah, bahasa, makanan, dan ingatan yang mungkin selama ini tersembunyi atau terlupakan.

Di samping dua pertunjukan ini, dilaksanakan juga acara pendamping. Di antaranya, Lokakarya Kreatif untuk Anak; Sudut Permainan dan Kreasi; dan Shared Heritage Kitchen yang membicarakan tentang teh serta juga mencicipi serta memasak hidangan akulturasi budaya Peranakan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
