JAKARTA – Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Christiawan Nasir memuji kepemimpinan kapten kapal MT Honour 25 selama berada dalam pembajakan di Somalia.
Kapten Ashari Samadikun (34) asal Gowa, Sulawesi Selatan; Wahudinanto (48) asal Pemalang, Jawa Tengah; Adi Faizal (27) asal Bulukumba, Sulawesi Selatan; serta Fiku Mutakin (25) asal Bogor, Jawa Barat tiba kembali di Tanah Air melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (6/10).
Kapal tanker MT Honour 25 yang mengangkut minyak menuju Mogadishu dan diawaki oleh 17 ABK, termasuk empat WNI, dibajak di lepas pantai perairan Hafun, Somalia oleh perompak pada April 2026. Selain WNI, awak kapal tersebut juga berasal dari Pakistan, India dan Myanmar.
Menlu RI memuji kepemimpinan Kapten Ashari selama kapal tersebut berada di bawah pembajakan kurang lebih selama lima bulan.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kapten Kapal MT Honour 25 Ashari yang sangat bertanggung jawab dan memimpin para kru, khususnya kru Indonesia selama di kapal dan dalam proses pembebasan ini dapat selamat,” kata Menlu Tata, panggilan akrabnya saat menyambut kedatangan para WNI bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sugiono, melansir keterangan Kementerian Luar Negeri RI, Rabu (7/10).
Menlu RI juga berterima kasih dan memuji kesabaran pihak keluarga para WNI “selama kurang lebih enam bulan terakhir” yang dinilainya tidak mudah saat menunggu kepastian nasib anggota keluarganya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, koordinasi yang dilakukan Pemerintah Indonesia tidak hanya dengan Pemerintah Somalia pemilik kapal, namun juga dengan negara-negara yang warganya menjadi sandera.
“Koordinasi kita tidak hanya dengan Pemerintah Somalia dan pemilik kapal, namun juga dengan pemerintah yang warganya menjadi kru kapal,” jelas Menlu Tata.
Sejak 21 April 2026 Kementerian Luar Negeri melalui Direktorat Pelindungan WNI dan KBRI Nairobi telah melakukan serangkaian upaya pembebasan kapal beserta seluruh krunya melalui koordinasi intensif dengan otoritas dan berbagai pihak di Somalia, serta pendekatan kepada perwakilan negara asal para kru.
Upaya tersebut berujung pada pembebasan para kru pada 29 September 2026 melalui operasi yang dilakukan otoritas Negara Bagian Puntland, Somalia.
Menlu Tata menambahkan, sejak awal Pemerintah Indonesia memilih tidak terbuka mengenai proses negosiasi dan upaya pembebasan yang dilakukan, agar tidak menguntungkan pihak pembajak.
“Karena memang itu suatu proses perundingan, negosiasi diplomasi yang kita tidak ingin digunakan pihak pembajak untuk menekan kita. Jadi dalam situasi seperti ini, kita akan selalu menjaga agar semua proses tertutup, agar jangan sampai merugikan kita dan WNI yang kesulitan,” tandasnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
