Modernisasi TNI Tak Cukup Beli Alutsista, Profesionalisme Harus Ikut Berubah


JAKARTA – Modernisasi Tentara Nasional Indonesia tidak cukup hanya dengan menambah pesawat tempur, kapal perang, radar, drone, atau sistem persenjataan baru. Asisten Strategis Panglima TNI Marsda TNI Dr. Budhi Achmadi menilai perubahan karakter ancaman juga menuntut pembaruan manusia, organisasi, doktrin, teknologi, dan cara berpikir.

Dalam refleksi HUT ke-81 TNI, Budhi mengatakan profesionalisme militer tidak berhenti pada satu bentuk. Konsep itu harus berkembang mengikuti perubahan ancaman, teknologi, lingkungan strategis, dan kebutuhan pertahanan negara.

Ia merujuk pemikiran Alfred Stepan mengenai old professionalism dan new professionalism. Old professionalism terutama menempatkan kemampuan militer dan pertahanan menghadapi ancaman eksternal sebagai orientasi utama. Sementara new professionalism memperluas kompetensi militer ketika tantangan keamanan dan pembangunan menjadi semakin kompleks.

Menurut Budhi, pendekatan itu tidak berarti TNI meninggalkan fondasi profesionalisme yang telah dibangun selama puluhan tahun. Disiplin, loyalitas, kepemimpinan, kemampuan tempur, hierarki komando, jiwa korsa, serta pengabdian kepada negara tetap menjadi dasar. Yang berubah adalah spektrum kemampuan yang dibutuhkan.

Konflik modern, kata Budhi, dapat berlangsung bersamaan di darat, laut, udara, siber, ruang elektromagnetik, ruang angkasa, dan ruang informasi. Ancaman juga semakin bersifat hibrida karena menggabungkan instrumen militer dengan teknologi, informasi, ekonomi, dan unsur nonmiliter.

Karena itu, prajurit masa depan tidak cukup hanya mahir bertempur. Perwira juga dituntut memahami geopolitik, geostrategi, teknologi, ekonomi pertahanan, diplomasi, kecerdasan buatan, keamanan siber, energi, perubahan iklim, hingga dinamika sosial.

“Prajurit profesional masa depan bukan hanya prajurit yang mampu bertempur, tetapi juga mampu memahami perubahan lingkungan strategis,” tulis Budhi dikutip dari pandangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, 5 Oktober.

Ia menegaskan kemampuan lintas disiplin itu bukan berarti TNI mengambil alih fungsi institusi lain. Pengetahuan tersebut dibutuhkan agar fungsi pertahanan dapat dijalankan secara tepat ketika lingkungan strategis semakin rumit.

Modernisasi, menurut Budhi, juga harus menyentuh organisasi dan komando kewilayahan. Sebagai negara kepulauan dengan kondisi geografis, demografis, dan sosial yang beragam, Indonesia membutuhkan struktur kewilayahan yang mampu membaca perubahan daerah dengan cepat.

Komando kewilayahan dapat menjadi bagian dari deteksi dini, kesiapsiagaan menghadapi bencana, komunikasi sosial, dan koordinasi lintas lembaga sesuai kewenangan serta peraturan yang berlaku.

Budhi mengaitkan hal itu dengan pembangunan. Menurut jenderal Bintang dua ini, keamanan merupakan salah satu prasyarat karena stabilitas memberi ruang bagi investasi, konektivitas, ketahanan pangan dan energi, pengelolaan sumber daya alam, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Di sisi alutsista, Budhi menilai teknologi pertahanan canggih tidak akan menghasilkan keunggulan strategis jika organisasi tidak mampu mengintegrasikannya. Pesawat tempur akan lebih efektif bila terhubung dengan sensor, radar, satelit, sistem komando, dan jaringan intelijen.

Karena itu, arah modernisasi TNI dinilai perlu bergeser dari platform centric menuju network centric, dari kemampuan masing-masing matra menuju operasi gabungan, serta dari operasi satu domain menuju multi-domain operations.

Perubahan tersebut juga membutuhkan apa yang disebut Budhi sebagai warrior-thinker. Prajurit tetap dituntut kuat secara fisik dan mental, tetapi juga harus mampu membaca data, memahami teknologi, serta mengambil keputusan dalam situasi penuh ketidakpastian.

“Kecerdasan buatan tidak menggantikan manusia. Teknologi justru harus memperkuat kualitas keputusan manusia,” tulis lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 1994 ini.

Menurut Budhi, investasi terbesar dalam modernisasi pertahanan tetap berada pada manusia TNI.

Menuju 2045, ia menilai karakter peperangan dunia mengalami perubahan fundamental. AI, senjata otonom, kawanan drone, perang siber, perang antariksa, teknologi kuantum, senjata hipersonik, hingga sensor generasi baru akan ikut membentuk konflik masa depan.

Budhi menyebut TNI membutuhkan lima keunggulan, yakni kemampuan tempur, kemampuan membaca lingkungan strategis, penguasaan teknologi pertahanan mutakhir, kemampuan operasi gabungan dan multi-domain, serta sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, dan berintegritas.

“Modernisasi TNI bukan sekadar modernisasi alutsista. Modernisasi TNI adalah modernisasi manusia, doktrin, organisasi, teknologi, dan cara berpikir,” tulis Budhi.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *