Ekonom Sebut Masa Tanam Akhir 2026 Jadi Penentu Pasokan Pangan Saat Ramadhan 2027


JAKARTA – Keberhasilan masa tanam Oktober hingga Desember 2026 dinilai akan menentukan pasokan pangan pada awal 2027. Risikonya membesar karena musim hujan diprakirakan mundur di banyak wilayah, sementara kebutuhan pangan akan meningkat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

Peneliti Center of Reform on Economics Indonesia Eliza Mardian mengatakan ancaman saat ini bukan hanya soal hasil panen yang sedang masuk, tetapi juga apakah petani bisa menanam tepat waktu hingga akhir tahun.

“Sebenarnya risiko terbesar saat ini bukan cuma produksi yang dipanen, tetapi keberhasilan tanam Oktober-Desember 2026 yang akan menentukan pasokan awal 2027 nanti,” kata Eliza di Jakarta, dikutip dari Antara, Senin, 5 Oktober.

Jika masa tanam bergeser atau terjadi gagal panen, pasokan yang seharusnya masuk pada Februari hingga April 2027 bisa ikut mundur. Periode itu bertepatan dengan kenaikan kebutuhan pangan saat Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.

“Yang dikhawatirkan selama Februari belum panen raya, tetapi permintaan tinggi. Ini yang perlu diantisipasi agar harga-harga pangan tidak melonjak ketika Ramadhan 2027,” ujarnya.

Data BPS menunjukkan produksi padi Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling, naik tipis 0,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, Eliza mengingatkan hasil panen tersebut berasal dari penanaman pada bulan-bulan sebelumnya.

Tantangan berikutnya datang dari cuaca. BMKG pada 5 Oktober mencatat indeks El Nino-Southern Oscillation periode Juli-Agustus-September berada di level plus 2,70, yang menunjukkan El Nino sangat kuat.

BMKG juga memprakirakan El Nino bertahan hingga awal 2027. Awal musim hujan di 529 zona musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia diperkirakan mundur dibanding kondisi normal.

Eliza mengingatkan kondisi serupa pernah terjadi pada 2023. Pergeseran musim tanam saat itu ikut memengaruhi waktu panen pada tahun berikutnya.

BPS mencatat harga beras pada Maret 2024 naik 20,07 persen dibandingkan Maret 2023. Pada periode yang sama, Bank Indonesia mencatat inflasi kelompok harga bergejolak mencapai 10,33 persen secara tahunan.

“Kalau tidak dimitigasi, dampak El Nino bisa mempengaruhi pasokan dan mengerek harga. Ketika harga-harga melambung tinggi, daya beli masyarakat dapat semakin tergerus,” kata Eliza.

Tekanan pangan tahun ini juga sudah terlihat. BI mencatat inflasi harga bergejolak pada September 2026 sebesar 5,03 persen secara tahunan, naik dari 4,06 persen pada Agustus.

Kenaikan terutama berasal dari cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras. Gangguan cuaca serta kenaikan biaya produksi menjadi salah satu penyebabnya.

Pemerintah menyiapkan 56 ribu pompa air untuk membantu lahan yang masih memiliki akses ke sumber air. Kementerian PU juga menangani kekeringan di 3.288 lokasi hingga 24 September, termasuk 358 lokasi persawahan dengan luas sekitar 141.440 hektare.

Namun, Eliza menilai pompanisasi bukan jawaban tunggal. Efektivitasnya tetap tergantung pada ketersediaan sumber air.

“Pompanisasi membantu akses air, tetapi tidak menjamin airnya tersedia. Kalau sungai dan embung menyusut, pompa hanya memindahkan kelangkaan dan menambah biaya,” ujarnya.

Selain pengelolaan air, Eliza menyarankan kalender tanam disesuaikan dengan prakiraan BMKG. Benih berumur pendek juga perlu disiapkan untuk daerah yang terpaksa menunda masa tanam.

Untuk menjaga pasokan, Badan Pangan Nasional menambah penugasan Bulog menyalurkan 74,18 ribu ton beras SPHP hingga 20 November 2026. Sementara stok Cadangan Beras Pemerintah tercatat 4,48 juta ton per 30 September.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *