JAKARTA – Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Herbuwono mengatakan mayoritas kasus influenza A dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus. Namun, pemerintah tetap memantau perkembangan kasus dan tingkat keparahannya.
“Ini adalah self-limiting disease, penyakit yang sembuh dengan sendirinya tanpa diobati. Jadi tidak berbahaya influenza A tersebut,” kata Dante dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah RI, Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 30 September.
Menurut Dante, sejauh ini tidak terlihat peningkatan kasus influenza yang signifikan, baik di Indonesia maupun secara global.
Pola penyebaran influenza A, kata Dante, tidak jauh berbeda dengan influenza pada umumnya. Kasus biasanya meningkat menjelang musim hujan di Indonesia, kemudian menurun sekitar Februari hingga Maret.
Dante meminta masyarakat menyikapi informasi mengenai influenza A secara proporsional dan tidak panik.
“Jangan ini digoreng dan dijadikan berita yang viral, sehingga seolah-olah menakutkan. Padahal tidak sama sekali, influenza A ini biasa saja kayak influenza biasa,” ujarnya.
Influenza A disebabkan virus influenza A dan dapat menular melalui percikan pernapasan.
Gejalanya antara lain demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala dan lemas.
Kementerian Kesehatan saat ini memantau influenza melalui sistem surveilans di 39 puskesmas, 35 rumah sakit dan 14 balai karantina kesehatan.
Berdasarkan laporan hingga minggu ke-38, aktivitas influenza berada dalam kategori sedang.
Data surveilans yang dirujuk Kemenkes menunjukkan positivity rate influenza pada minggu ke-38 mencapai 56 persen. Virus yang dominan di Indonesia saat ini adalah influenza A(H1N1)pdm09.
Sejumlah provinsi mencatat proporsi kasus positif influenza cukup tinggi. Sulawesi Tenggara mencapai 37 persen, DKI Jakarta 31 persen dan Kepulauan Bangka Belitung 29 persen.
Meski sebagian besar penderita dapat pulih tanpa perawatan khusus, influenza tidak selalu ringan bagi semua orang.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut influenza dapat menyebabkan penyakit berat, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti anak kecil, lansia, ibu hamil dan orang dengan penyakit penyerta.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
