Sekjen NATO Sebut Kampanye Hibrida Rusia Tidak Menghentikan Dukungan untuk Ukraina


JAKARTA – Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada Hari Selasa menyerukan “ketenangan” terkait kampanye sabotase Rusia di Eropa, seraya menyatakan upaya tersebut gagal melemahkan dukungan bagi Ukraina.

Ini disampaikan Sekjen Rutte menyusul tuduhan terhadap Rusia yang dinilai berada di balik serangan hibrida yang terjadi di negara-negara aliansi di Eropa beberapa waktu belakangan.

Pada Hari Selasa, Estonia menjadi negara terbaru yang secara resmi menyalahkan Rusia atas insiden semacam itu, dengan menyatakan bahwa “dinas khusus” Moskow telah memerintahkan serangan pembakaran terhadap sebuah perusahaan pertahanan pada Bulan Agustus.

“Rusia terus melancarkan kampanye tindakan bermusuhan terhadap sekutu-sekutu NATO. Mereka berusaha melemahkan tekad kita dan menghentikan dukungan kita bagi Ukraina,” ujarnya melansir Al Arabiya dari AFP (30/9).

“Namun, Rusia gagal. Mereka gagal di medan perang Ukraina dan gagal merusak persatuan serta dukungan kita terhadap Ukraina,” tandas Sekjen Rutte.

Pemerintah-pemerintah Eropa menyatakan Moskow sedang meningkatkan kampanye sabotase dan campur tangan terhadap pihak-pihak yang mendukung Ukraina, di saat pasukan Kremlin mengalami kesulitan di garis depan—lebih dari empat tahun setelah invasi mereka pada Februari 2022.

Insiden di Estonia tersebut terjadi tak lama setelah ditemukannya pesawat nirawak (drone) bermuatan bahan peledak di sebuah bandara di Rusia, sebuah insiden yang dikaitkan oleh Berlin dengan Moskow.

Sekjen Rutte mengakui aktivitas Rusia “bisa berdampak dan jelas, terkadang memang berdampak.”

Namun, ia mendesak negara-negara NATO untuk tetap “tenang, melanjutkan langkah, dan mendukung Ukraina.”

“Kita tidak boleh naif mengenai Rusia, namun mereka tahu bahwa kita lebih kuat,” kata Sekjen NATO.

Berbicara mendampingi kepala NATO tersebut, Perdana Menteri Lituania Mindaugas Sinkevicius mengatakan badan intelijen tidak memiliki bukti yang menunjukkan Moskow sedang bersiap melakukan sesuatu yang lebih besar dalam waktu dekat.

“Kita harus menyampaikan jika ada ancaman bagi masyarakat, namun kita tidak boleh melebih-lebihkan dan mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi dalam beberapa bulan atau minggu mendatang,” ujarnya.

“Risiko itu tetap ada, namun tidak berfluktuasi, tidak meningkat ataupun menurun,” tambahnya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *