JAKARTA – Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi Indonesia dengan negara mitra meningkat tajam. Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi mencapai 42,07 miliar dolar AS sepanjang semester I 2026, melonjak 259 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 11,72 miliar dolar AS.
Capaian selama enam bulan tersebut bahkan telah melampaui total transaksi sepanjang 2025 yang mencapai 25,74 miliar dolar AS. Peningkatan itu didukung perluasan kerja sama Local Currency Transaction (LCT), yang memungkinkan transaksi perdagangan dan investasi antarnegara menggunakan mata uang masing-masing.
Saat ini, Indonesia telah menjalankan kerja sama LCT dengan tujuh negara, yakni Malaysia, Thailand, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura. BI berencana memperluas kerja sama tersebut dengan negara mitra lainnya.
Melalui LCT, pelaku usaha Indonesia dapat menggunakan rupiah dan mata uang negara mitra dalam transaksi tertentu. Mekanisme ini mengurangi kebutuhan menggunakan mata uang negara ketiga, seperti dolar AS, sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar.
Deputi Gubernur BI Thomas A. M. Djiwandono mengatakan peningkatan aktivitas ekonomi lintas negara harus didukung layanan bank sentral yang aman, efisien, dan dapat diandalkan.
“Kredibilitas kebijakan perlu didukung oleh kredibilitas operasional,” kata Thomas saat membuka Central Banking Services Festival (CB Fest) 2026 di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Senin, 28 September.
Menurutnya, keandalan layanan tersebut diperlukan untuk mendukung berbagai kegiatan bank sentral, mulai dari penyelesaian transaksi operasi moneter, pengelolaan cadangan devisa dan emas, hingga kerja sama keuangan internasional.
BI juga melayani kebutuhan pemerintah, termasuk pengelolaan rekening, transfer dana, penyelesaian transaksi, dan pencatatan utang luar negeri. Sementara bagi industri keuangan, bank sentral menangani penyelesaian transaksi surat berharga dalam rupiah maupun valuta asing.
Thomas menekankan pentingnya kesiapan operasional BI di tengah semakin luasnya hubungan ekonomi dan keuangan antarnegara. Selain menjaga stabilitas harga dan nilai tukar, bank sentral juga memiliki peran dalam menjaga stabilitas sistem keuangan dan keandalan sistem pembayaran.
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan ketahanan ekonomi tidak cukup hanya diukur dari kemampuan menghadapi krisis. Pemerintah dan otoritas keuangan juga harus mampu beradaptasi terhadap perubahan sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat.
Menurut Juda, ketahanan tersebut perlu dibangun sebelum krisis terjadi melalui kebijakan yang kredibel, kelembagaan yang kuat, tata kelola yang baik, serta kerja sama antarlembaga.
Ia menekankan pentingnya koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan untuk menghadapi perubahan ekonomi global serta perkembangan teknologi.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam CB Fest 2026 yang mempertemukan bank sentral, otoritas keuangan, kementerian, industri perbankan, dan asosiasi internasional. Forum tahun ini menyoroti meningkatnya risiko geopolitik dan dampaknya terhadap stabilitas keuangan serta transaksi lintas negara.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
