Hampir 100.000 Ikan Koi Hanyut Akibat Banjir Setelah Badai Topan di Chiba


JAKARTA – Sekitar 100.000 ikan koi hias (Nishikigoi) yang siap jual hanyut setelah hujan deras akibat badai topan menjebol sejumlah tanggul di sebuah danau di Prefektur Chiba, dekat Tokyo, Jepang.

Hal ini terungkap saat pihak berwenang sedang mendata kerusakan luas yang menimpa sektor pertanian dan perikanan setempat.

Topan Dujuan, yang mendekati wilayah tersebut sekitar seminggu yang lalu, menggenangi sawah dan lahan pertanian lainnya, serta membanjiri fasilitas budidaya ikan koi dan belut di dekat Danau Imbanuma, wilayah utara Chiba.

Kenji Tani, pemilik usaha budidaya ikan di Narita, menyadari parahnya kerusakan tersebut setelah kembali ke rumah pada Hari Selasa lalu dari perjalanan luar negeri untuk menghadiri pameran Nishikigoi.

Menjelang jadwal awal penjualan yang direncanakan pada Hari Minggu, tempat usahanya telah menyiapkan sekitar 100.000 ekor ikan koi. Namun, hampir semuanya hanyut – kecuali sekitar 200 hingga 300 ekor – setelah fasilitas budidaya tersebut terendam banjir.

“Saya berharap tanggul-tanggul itu diperbaiki, meskipun hanya perbaikan darurat sementara. Kami tidak bisa berbuat apa-apa jika ada badai topan lain yang mendekat,” ujar Tani (58) dikutip dari Kyodo News (29/9).

Ikan koi Jepang (Nishikigoi) sangat populer di luar negeri, termasuk di Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara.

Menurut data pemerintah, nilai ekspor ikan koi ini meningkat lebih dari dua kali lipat dalam kurun waktu lima tahun hingga tahun 2025, mencapai sekitar 10 miliar yen (63 juta dolar AS).

Di Chiba, kerugian di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan diperkirakan akan membengkak dari angka sekitar 87 juta yen yang tercatat pada Hari Kamis.

Hal ini menjadi pukulan tambahan bagi warga setempat yang sebelumnya telah mengalami bencana serupa dalam beberapa minggu sebelum kedatangan Topan Dujuan.

Hujan deras pada Bulan Agustus menyebabkan kerugian senilai 8,22 miliar yen di 33 wilayah administratif, sementara hujan lebat lainnya pada awal September menimbulkan kerugian sekitar 230 juta yen di 17 wilayah administratif.

Di lokasi lain di Chiba, sebuah perkebunan stroberi mengalami kerusakan akibat luapan air sungai di dekatnya. Sekitar 10 hingga 20 persen bibit stroberi di perkebunan milik Nobuyuki Watanabe di Kimitsu terdampak oleh masalah tersebut.

Watanabe (48) mengatakan ia telah mendesak pemerintah setempat untuk mengambil tindakan terkait sungai tersebut, mengingat kecenderungannya untuk meluap dan menyebabkan banjir.

“Jika mereka tetap tidak mengambil tindakan, saya akan menjadi generasi terakhir di keluarga saya yang menjalankan usaha ini,” tandasnya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *