Fadli Zon Minta Taman Budaya Yogyakarta Jadi Pusat Pengembangan Seniman, Bukan Hanya Gedung Pertunjukan


YOGYAKARTA – Menteri Kebudayaan Fadli Zon ingin Taman Budaya di berbagai daerah tidak hanya menjadi tempat pertunjukan seni. Fasilitas tersebut juga harus menjadi ruang bagi seniman untuk berkarya, mengembangkan bakat, membangun jejaring, hingga memasarkan hasil karyanya.

Hal itu disampaikan Fadli saat menghadiri Temu Karya Taman Budaya (TKTB) se-Indonesia XXV di Taman Budaya Yogyakarta, Senin, 28 September. Ia menilai Taman Budaya memiliki peran penting dalam pembinaan seniman dan pengembangan ekosistem kebudayaan nasional.

“Kehadiran Taman Budaya ini menjadi sangat penting di dalam pemajuan kebudayaan, sesuai dengan amanat imperatif konstitusi Pasal 32 Ayat (1) UUD 1945. Suatu legacy yang hadir hampir di setiap daerah, semacam cultural center yang sangat penting,” kata Fadli.

Menurutnya, Taman Budaya perlu dikembangkan sebagai pusat penciptaan karya, pertukaran pengetahuan, dan pembinaan generasi baru seniman. Fasilitas tersebut juga dapat mempertemukan pelaku seni dengan komunitas, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat.

Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian Fadli adalah Suluh Sumurup Art Festival. Pameran ini menampilkan 186 karya seni rupa dari 132 seniman penyandang disabilitas, mulai dari lukisan, batik, instalasi, hingga karya multimedia.

Fadli mengapresiasi karya para seniman tersebut dan berharap pameran serupa dapat diselenggarakan di berbagai daerah.

“Karya-karya yang dipamerkan ini luar biasa karena menunjukkan bahwa siapapun, meskipun dalam keterbatasan, bisa mengekspresikan apa yang menjadi pikiran, rasa, budaya, serta memotret keadaan,” ujarnya.

Ia juga berharap karya seniman penyandang disabilitas mendapat kesempatan lebih luas untuk dipamerkan, menjadi koleksi galeri, maupun dibeli kolektor seni.

Selain pameran, kegiatan tersebut menghadirkan Pojok Kreatif Taman Budaya yang dirancang untuk membantu pemasaran digital dan pengembangan merek produk seniman serta perajin.

Program ini mengusung konsep ekonomi budaya sirkular. Pendapatan dari karya seni diharapkan dapat kembali mendukung seniman, komunitas, pembinaan talenta baru, dan pengembangan kegiatan seni di daerah asalnya.

Fadli juga mendorong kerja sama antartaman budaya melalui pertukaran karya, program residensi atau kesempatan berkarya di tempat lain, serta kurasi bersama untuk memilih dan menyajikan karya seni.

“Taman Budaya harus menjadi ruang tempat karya bertemu dengan publik untuk memperkuat ekosistem kebudayaan nasional,” katanya.

Kementerian Kebudayaan turut mendorong kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan komunitas untuk memperbaiki fasilitas, meningkatkan kualitas program, serta memperkuat pengelolaan Taman Budaya.

Temu Karya Taman Budaya XXV berlangsung pada 28 September hingga 1 Oktober 2026. Kegiatan yang mempertemukan pengelola Taman Budaya dari berbagai daerah ini kembali digelar di Yogyakarta, tempat forum tersebut pertama kali dibentuk pada 1997.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *