Forum Wartawan Kebangsaan Minta Presiden Prabowo Perhatikan Pembinaan Atlet, Bukan Hanya Bonus Asian Games


JAKARTA – Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) meminta Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian lebih besar terhadap pembinaan atlet jangka panjang, bukan hanya menyediakan bonus bagi peraih medali. FWK menilai pembinaan yang berkesinambungan diperlukan agar Indonesia mampu bersaing di Asian Games dan Olimpiade.

Permintaan itu disampaikan menjelang final bulu tangkis beregu putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026 antara Indonesia dan China, Kamis, 24 September. FWK berharap Jonatan Christie dan rekan-rekannya mampu mempersembahkan medali emas pertama bagi Indonesia.

Mantan Wakil Ketua Dewan Pers Hendry Ch Bangun mengatakan bonus Rp3 miliar yang dijanjikan Presiden bagi peraih emas Asian Games masih bisa ditingkatkan. Namun, menurut Hendry, perhatian terhadap proses pembinaan atlet jauh lebih penting.

“Bonus Rp3 miliar terbilang kecil, kalau perlu dipertimbangkan sampai Rp10 miliar. Ini akan lebih menyemangati setiap atlet berjuang habis-habisan di arena pertandingan,” kata Hendry dalam Diskusi Kebangsaan FWK di Jakarta, Rabu, 23 September.

Diskusi tersebut diawali dengan menyaksikan semifinal bulu tangkis beregu putra Indonesia melawan Thailand. Tim Indonesia menang 3-1 dan memastikan tempat di final.

FWK menyoroti perolehan medali Indonesia yang hingga hari kelima Asian Games 2026 belum menghasilkan emas. Menurut peserta diskusi, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Myanmar telah lebih dahulu meraih medali emas.

Mantan wartawan senior Kompas, Jimmy S. Harianto, mengatakan pembinaan olahraga Indonesia membutuhkan perhatian lebih besar, terutama pada cabang-cabang yang dipertandingkan di Asian Games dan Olimpiade.

“Diskusi ini untuk menyampaikan keprihatinan kita terhadap perkembangan pembinaan olahraga di Tanah Air kita. Terutama untuk cabang olahraga bergengsi yang dipertandingkan dalam Olimpiade dan Asian Games,” ujar Jimmy.

Diskusi yang diikuti sejumlah wartawan senior tersebut juga membahas persoalan persiapan dan anggaran pemusatan latihan nasional (pelatnas) menjelang kejuaraan internasional.

Selain Hendry dan Jimmy, peserta yang hadir antara lain wartawan senior Kantor Berita Antara AR Loebis, Pemimpin Redaksi VOI Iqbal Irsyad, Dr. Budi Nugraha, Sigit Setiyono, Sarwani, Herwan Pebriansyah, dan Herry Sinamarata.

Para peserta menyoroti pentingnya pembinaan sejak dini dan kesinambungan program pelatnas. Mereka juga mengingatkan kontribusi tokoh olahraga seperti MF Siregar dan Bob Hasan dalam pengembangan prestasi olahraga Indonesia.

Hendry mengapresiasi langkah Ketua Umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Luhut Binsar Pandjaitan yang mendorong pelatnas atletik jangka panjang dengan pendanaan beberapa tahun sekaligus atau multiyear.

Menurut Hendry, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membina atlet hingga mampu bersaing di tingkat Asia dan dunia. Jika anggaran pemerintah terbatas, ia mengusulkan keterlibatan masyarakat dan dunia usaha.

“Jika kemampuan anggaran pemerintah terbatas, coba libatkan masyarakat, kolaborasi dengan dunia usaha. Presiden Prabowo perlu turun tangan merangkul tokoh-tokoh masyarakat dan dunia usaha ikut membina olahraga,” katanya.

Ia mencontohkan pola kerja sama pemerintah dan dunia usaha pada masa Presiden Soeharto. Hendry juga berharap Prabowo dapat hadir langsung di Asian Games sebagai bentuk perhatian kepada kontingen Indonesia.

Pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Indonesia mengirimkan 432 atlet dan 145 ofisial untuk mengikuti 35 cabang olahraga. Presiden Prabowo sebelumnya melepas kontingen tersebut di Istana pada 9 September.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *