YOGYAKARTA – Sejumlah pelaku usaha di Yogyakarta, mulai dari perhotelan hingga restoran mulai beralih menggunakan Compressed Natural Gas (CNG).
Hal ini merupakan langkah untuk mendukung program pemerintah yang saat ini sedang ancang-ancang untuk memperluas penggunaan CNG sebagai bahan bakar alternatif elpiji.
Dibalik rencana ambisius pemerintah demi menekan penggunaan elpiji yang banyak didatangkan dari impor tersebut penggunaan CNG ternyata sudah didorong oleh PT Pertamina Gas Negara (Tbk) atau PGN untuk sektor komersial. Anak usaha PGN yakni PT Gagas Energi Indonesia sejak tahun 2026 terus melayani pelanggan-pelanggan baru yang mulau menggunakan CNG.
Chief Engineering Hotel Platinum Yogyakarta, Maryudi mengatakan pihaknya mulai beralih menggunakan CNG sejak Januari 2026 dengan rerata pemakaian berkisar 1.200 hingga 1.500 meter kubik (M3) per bulan, atau setara dengan sekitar 1.500 kg elpiji.
“Secara pemakaian, kalau kita rupiahkan itu cukup hemat dari sebelumnya. Penghematannya sekitar 20 sampai 30 persen. Biasanya sekitar Rp29 juta sampai Rp30 juta, ini bisa turun jadi sekitar Rp20 juta,” ujar Yudi saat ditemui di Sleman, Rabu, 16 September.
Selain efisiensi biaya, manajemen hotel juga merasakan keunggulan lain seperti stabilitas harga, keamanan, serta kemudahan dalam manajemen pasokan.
Maryudi juga mengakuii jika koordinasi pengisian ulang dilakukan secara real-time melalui grup komunikasi khusus bersama tim Gagas di wilayah Yogyakarta.
Manfaat serupa juga dirasakan oleh restoran Marugame Udon Kaliurang. Supervisor Marugame Udon Kaliurang, Dedi Sugianto, mengatakan bahwa dalam sebulan restorannya mengonsumsi sekitar 1.000 M3 CNG dengan jadwal refill rutin setiap dua hari sekali tanpa menunggu gas habis.
“Tanpa menunggu sampai gas habis, dua hari sekali langsung melakukan refill,” ujar Dedi.
Dari sisi teknis pembakaran, Dedi menilai CNG memberikan kualitas memasak yang lebih sempurna berkat tekanan output yang lebih tinggi dan warna api yang lebih biru bersih dibandingkan elpiji.
Head Area Gagas Yogyakarta, Miranti Dyah Pramesti, menjelaskan bahwa penyaluran CNG menyasar pelanggan komersial di wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa gas transmisi PGN.
Untuk menjamin kenyamanan pelanggan retail, Gagas menerapkan skema harga yang kompetitif dan flat melalui layanan GasKu selama periode kontrak satu tahun. Skema ini melindungi pelaku usaha dari fluktuasi harga jangka pendek yang dipengaruhi oleh pergerakan minyak dunia.
“Jadi ada kontrak 1 tahun, nanti disepakati pembayarannya seperti apa. Kalau pascabayar itu setiap tanggal 5, jatuh tempo tanggal 20. Kalau GasKu ini flat, jadi tidak terpengaruh dengan minyak dunia,” jelas Miranti.
Bagi calon pelanggan yang berminat, lanjut dia, Gagas memberlakukan prosedur awal berupa survei lokasi dan asesmen kebutuhan volume gas. Perusahaan menetapkan minimum konsumsi sebesar 500 meter kubik per bulan serta meninjau kesiapan instalasi kompor serta sistem penyaluran injeksi di lokasi pelanggan.
Lebih lanjut Miranti menyebut hingga saat ini, volume penyaluran CNG Gagas di kawasan Jawa Tengah bagian selatan, termasuk Yogyakarta dan Solo, telah mencapai 80.000 meter kubik per bulan. Khusus untuk wilayah Kota Yogyakarta sendiri, penyaluran berada di angka 50.000 hingga 60.000 meter kubik per bulan dengan empat pelanggan utama dari sektor komersial.
“Ke depan, Gagas terus memperluas jangkauan pasar CNG tidak hanya untuk sektor komersial seperti hotel dan restoran di Yogyakarta, Solo, dan Magelang, tetapi juga merambah fasilitas pendukung program strategis pemerintah lainnya,” tandas Miranti.
Beralih Gunakan CNG, Hotel Hingga Restoran di Jogja Berhasil Pangkas Biaya Energi
YOGYAKARTA – Sejumlah pelaku usaha di Yogyakarta, mulai dari perhotelan hingga restoran mulai beralih menggunakan Compressed Natural Gas (CNG).
Hal ini merupakan langkah untuk mendukung program pemerintah yang saat ini sedang ancang-ancang untuk memperluas penggunaan CNG sebagai bahan bakar alternatif elpiji.
Dibalik rencana ambisius pemerintah demi menekan penggunaan elpiji yang banyak didatangkan dari impor tersebut penggunaan CNG ternyata sudah didorong oleh PT Pertamina Gas Negara (Tbk) atau PGN untuk sektor komersial. Anak usaha PGN yakni PT Gagas Energi Indonesia sejak tahun 2026 terus melayani pelanggan-pelanggan baru yang mulau menggunakan CNG.
Chief Engineering Hotel Platinum Yogyakarta, Maryudi mengatakan pihaknya mulai beralih menggunakan CNG sejak Januari 2026 dengan rerata pemakaian berkisar 1.200 hingga 1.500 meter kubik (M3) per bulan, atau setara dengan sekitar 1.500 kg elpiji.
“Secara pemakaian, kalau kita rupiahkan itu cukup hemat dari sebelumnya. Penghematannya sekitar 20 sampai 30 persen. Biasanya sekitar Rp29 juta sampai Rp30 juta, ini bisa turun jadi sekitar Rp20 juta,” ujar Yudi saat ditemui di Sleman, Rabu, 16 September.
Selain efisiensi biaya, manajemen hotel juga merasakan keunggulan lain seperti stabilitas harga, keamanan, serta kemudahan dalam manajemen pasokan.
Maryudi juga mengakuii jika koordinasi pengisian ulang dilakukan secara real-time melalui grup komunikasi khusus bersama tim Gagas di wilayah Yogyakarta.
Manfaat serupa juga dirasakan oleh restoran Marugame Udon Kaliurang. Supervisor Marugame Udon Kaliurang, Dedi Sugianto, mengatakan bahwa dalam sebulan restorannya mengonsumsi sekitar 1.000 M3 CNG dengan jadwal refill rutin setiap dua hari sekali tanpa menunggu gas habis.
“Tanpa menunggu sampai gas habis, dua hari sekali langsung melakukan refill,” ujar Dedi.
Dari sisi teknis pembakaran, Dedi menilai CNG memberikan kualitas memasak yang lebih sempurna berkat tekanan output yang lebih tinggi dan warna api yang lebih biru bersih dibandingkan elpiji.
Head Area Gagas Yogyakarta, Miranti Dyah Pramesti, menjelaskan bahwa penyaluran CNG menyasar pelanggan komersial di wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa gas transmisi PGN.
Untuk menjamin kenyamanan pelanggan retail, Gagas menerapkan skema harga yang kompetitif dan flat melalui layanan GasKu selama periode kontrak satu tahun. Skema ini melindungi pelaku usaha dari fluktuasi harga jangka pendek yang dipengaruhi oleh pergerakan minyak dunia.
“Jadi ada kontrak 1 tahun, nanti disepakati pembayarannya seperti apa. Kalau pascabayar itu setiap tanggal 5, jatuh tempo tanggal 20. Kalau GasKu ini flat, jadi tidak terpengaruh dengan minyak dunia,” jelas Miranti.
Bagi calon pelanggan yang berminat, lanjut dia, Gagas memberlakukan prosedur awal berupa survei lokasi dan asesmen kebutuhan volume gas. Perusahaan menetapkan minimum konsumsi sebesar 500 meter kubik per bulan serta meninjau kesiapan instalasi kompor serta sistem penyaluran injeksi di lokasi pelanggan.
Lebih lanjut Miranti menyebut hingga saat ini, volume penyaluran CNG Gagas di kawasan Jawa Tengah bagian selatan, termasuk Yogyakarta dan Solo, telah mencapai 80.000 meter kubik per bulan. Khusus untuk wilayah Kota Yogyakarta sendiri, penyaluran berada di angka 50.000 hingga 60.000 meter kubik per bulan dengan empat pelanggan utama dari sektor komersial.
“Ke depan, Gagas terus memperluas jangkauan pasar CNG tidak hanya untuk sektor komersial seperti hotel dan restoran di Yogyakarta, Solo, dan Magelang, tetapi juga merambah fasilitas pendukung program strategis pemerintah lainnya,” tandas Miranti.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
