Selat Hormuz Bergejolak, Bauran Energi China Jadi Sorotan


JAKARTA – Ketegangan di Selat Hormuz membuat dunia kembali menengok ketahanan energi. Di tengah risiko harga bahan bakar dan jalur pasok, bauran energi China dinilai memberi keuntungan bagi daya tahan ekonominya.

China Daily dikutip Jumat, 26 Juni, melaporkan, penilaian itu disampaikan CEO Rosneft Igor Sechin. Ia menyebut pendekatan sistematis China dalam pembangunan energi dan investasi infrastruktur membuat negara itu lebih siap menghadapi gejolak global.

Bauran energi adalah gabungan berbagai sumber energi, seperti batu bara, gas, surya, angin, nuklir, dan penyimpanan energi, yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan listrik dan bahan bakar.

Menurut Sechin, energi kini bukan lagi sekadar urusan sumber daya, teknologi, dan pasar. Konflik geopolitik, gangguan jalur dagang, lonjakan kebutuhan listrik, dan persaingan teknologi membuat ketahanan energi menjadi bagian penting dari daya tahan negara.

Ia menyoroti Selat Hormuz sebagai contoh paling jelas. Jalur ini menjadi salah satu urat nadi pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau EIA, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak melintasi Selat Hormuz setiap hari pada 2025. Nilai perdagangan energi melalui jalur itu diperkirakan mendekati 600 miliar dolar AS per tahun.

Namun, keamanan jalur tersebut memburuk setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Kenaikan harga bahan bakar ikut mendorong biaya operasional di berbagai sektor.

CEO Maersk Vincent Clerc memperingatkan kenaikan biaya itu pada akhirnya akan diteruskan kepada pelanggan dan konsumen.

Dalam situasi seperti itu, Sechin menilai pengalaman China menjadi relevan. Ia mengatakan China telah berkembang menjadi kekuatan energi dunia berkat kemajuan ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Menurut Sechin, pendekatan China yang seimbang membuat negara itu lebih siap menghadapi krisis Selat Hormuz dan kenaikan harga bahan bakar.

China, kata Sechin, telah membangun transportasi perkotaan dan antarkota yang murah. Saat jalur pasok terganggu, masyarakat masih punya pilihan seperti mobil listrik, bus listrik, truk berbahan bakar gas, kereta bawah tanah, kereta listrik, dan taksi listrik.

Mengutip laporan Sechin, China Daily menulis ketahanan itu lahir dari cara China memandang energi sebagai pekerjaan jangka panjang yang terkait langsung dengan keamanan ekonomi.

Dalam 10 tahun terakhir, produksi listrik dari surya dan angin di China meningkat sepuluh kali lipat menjadi sekitar 2.300 terawatt-jam. Angka itu setara 22 persen dari bauran energi nasional.

China juga tetap membangun pembangkit listrik termal untuk menjaga pasokan. Sepanjang tahun lalu, 78 gigawatt pembangkit berbahan bakar batu bara mulai beroperasi.

Di sektor nuklir, China menjalankan program pembangunan terbesar di dunia. Saat ini, 39 reaktor sedang dibangun, lebih dari separuh total pembangkit nuklir yang sedang dibangun secara global.

Penyimpanan energi juga menjadi bagian penting dalam sistem besar itu. Menurut Sechin, China kini memimpin dunia di sektor tersebut. China juga menjadi investor besar dalam jaringan listrik, dengan nilai sekitar 100 miliar dolar AS.

Sechin menilai strategi energi yang beragam memberi keuntungan nyata pada harga listrik. Tarif listrik industri di China sekitar 9 sen dolar AS per kilowatt-jam, atau 72 persen lebih rendah dibandingkan Jerman dan 59 persen lebih rendah dibandingkan Prancis.

Tarif listrik rumah tangga di China sekitar 7 sen dolar AS per kilowatt-jam. Angka itu disebut 58 persen lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat.

“Hanya Rusia yang berada pada tingkat yang hampir sama,” ujar Sechin.

Menurut Sechin, penguatan ketahanan energi menjadi bagian dari strategi China dalam memanfaatkan sumber daya domestik. Investasi energi dan infrastruktur yang besar membuat visi itu berubah menjadi keuntungan ekonomi.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *