Konflik Timur Tengah Buka Peluang Indonesia Jadi Tujuan Alternatif Investasi


JAKARTA — Konflik berkepanjangan di Timur Tengah dinilai berpotensi mendorong pergeseran arus investasi dari negara-negara Teluk ke kawasan yang dianggap lebih aman, termasuk Asia Tenggara. Indonesia dinilai perlu bergerak cepat menangkap peluang tersebut untuk menarik modal asing dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Pengamat Ekonomi Syariah Universitas Paramadina, Imas Damayanti, mengatakan konflik yang melibatkan ketegangan militer di Timur Tengah sejak awal 2026 tidak hanya berdampak pada perekonomian negara-negara yang terlibat, tetapi juga memengaruhi kepercayaan investor terhadap stabilitas kawasan Teluk atau Gulf States.

Menurut Imas, situasi keamanan yang belum menunjukkan penyelesaian konkret berpotensi mendorong investor meninjau kembali penempatan modal mereka. Kondisi tersebut dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi yang sebelumnya direncanakan masuk ke negara-negara Teluk.

“Terlepas dari dampak yang bertubi-tubi dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah, Indonesia harus menyambut peluang dari kondisi ini. Capital flight dari Gulf Statesyang selama ini dianggap sebagai tempat aman oleh para investor harus berhasil kita relokasi masuk ke Indonesia,” kata Imas di Jakarta, Kamis 15 Oktober.

Capital flightatau pelarian modal merupakan perpindahan dana dari suatu negara atau kawasan ke tempat lain akibat meningkatnya risiko, ketidakpastian, atau pertimbangan keuntungan investasi. Dalam situasi konflik, keputusan tersebut dapat dipengaruhi oleh keamanan, kepastian usaha, serta keberlanjutan proyek jangka panjang.

Imas menilai ketidakstabilan keamanan di kawasan Teluk berpotensi mengganggu sektor-sektor andalan yang tengah dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas. Salah satunya pariwisata, yang bergantung pada kelancaran penerbangan, mobilitas wisatawan, dan persepsi keamanan destinasi.

Ia menyebut penutupan ruang udara di kawasan Teluk berpotensi menyebabkan hilangnya pendapatan dari belanja wisatawan internasional hingga 58 miliar dolar AS. Selain itu, proyek strategis di sektor properti dan digital di sejumlah pusat bisnis, termasuk Dubai dan Doha, dinilai menghadapi risiko keterlambatan atau terhentinya kegiatan.

“Tidak ada upaya konkret dari pemimpin negara di wilayah Teluk untuk menyelesaikan konflik ini. Pastinya ini membuat investor tidak lagi percaya ya untuk berinvestasi di Teluk,” tegasnya.

Menurut Imas, ketidakpastian keamanan juga dapat memengaruhi rencana perusahaan multinasional yang sebelumnya mempertimbangkan Riyadh dan Dubai sebagai lokasi kantor pusat regional atau regional headquarters. Perusahaan-perusahaan tersebut, kata dia, mulai melirik alternatif lokasi di Asia Tenggara yang dinilai menawarkan lingkungan usaha lebih stabil.

Indonesia, lanjut Imas, memiliki peluang untuk masuk dalam pertimbangan perusahaan tersebut. Namun, peluang itu perlu diikuti langkah konkret pemerintah untuk memperkuat daya tarik investasi, mulai dari kepastian hukum hingga kemudahan menjalankan usaha.

“Dalam hal ini, kita boleh percaya diri karena Indonesia pun termasuk negara di ASEAN yang relatif aman dan terhindar dari konflik maritim maupun udara,” ujarnya.

Imas juga menyoroti dampak konflik terhadap persepsi keamanan di Arab Saudi setelah serangan rudal di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, yang menurutnya dilancarkan kelompok Houthi Yaman. Ia menyebut insiden tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan kawasan, termasuk bagi aktivitas perjalanan ke Tanah Suci.

“Ini menjadi bukti konkret bahwa instabilitas keamanan di wilayah Teluk sudah sangat memprihatinkan. Tidak bisa lagi mereka itu masuk sebagai negara yang aman, khususnya untuk investasi,” ungkapnya.

Meski demikian, Imas menekankan bahwa peluang masuknya investasi ke Indonesia tidak akan terwujud hanya karena investor mengurangi eksposur di kawasan konflik. Pemerintah perlu menawarkan kondisi yang kompetitif agar Indonesia benar-benar menjadi tujuan alternatif bagi modal asing.

Ia mendorong pemerintah bergerak cepat mengidentifikasi perusahaan dan proyek yang berpotensi memindahkan investasi, sekaligus menyiapkan penawaran yang sesuai dengan kebutuhan investor. Upaya tersebut perlu disertai kepastian regulasi, iklim usaha yang kondusif, serta dukungan terhadap pengembangan sektor-sektor produktif.

Menurut Imas, arus masuk modal atau capital inflow dapat mendukung penguatan nilai tukar rupiah, memperluas kegiatan ekonomi, dan mendorong pembangunan nasional. Namun, manfaat tersebut bergantung pada realisasi investasi dan dampaknya terhadap aktivitas ekonomi di dalam negeri.

Karena itu, ia meminta pemerintah tidak kehilangan momentum di tengah perubahan peta risiko investasi global. Indonesia perlu memastikan bahwa peluang pergeseran modal dari negara-negara Teluk dapat diterjemahkan menjadi investasi nyata yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *