Balai Budaya Elidan Disiapkan Jadi Ruang Regenerasi Seni dan Adat Minangkabau


LIMA PULUH KOTA — Balai Budaya Elidan di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, diproyeksikan menjadi ruang pengembangan seni sekaligus regenerasi budaya Minangkabau di tingkat komunitas.

Fasilitas yang berada di kawasan Rumah Sawiyah itu diresmikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat kunjungan kerja ke kampung halamannya, Jumat (19/6).

Berbeda dari balai pertemuan biasa, Balai Budaya Elidan disiapkan sebagai pusat aktivitas budaya masyarakat. Mulai dari randai, tari tradisional, petatah-petitih, gandang, puisi, teater, drama, hingga pencak silat.

Menurut Fadli, tantangan terbesar pelestarian budaya bukan hanya menjaga tradisi tetap ada, tetapi memastikan tradisi itu terus dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ia berharap berbagai kegiatan budaya dapat berjalan secara rutin dan berbasis komunitas.

“Balai Budaya Elidan masih memerlukan program-program yang dikelola secara berkelanjutan. Aktivitas seni dan budaya perlu memiliki jadwal yang rutin sehingga ruang ini benar-benar hidup,” kata Fadli.

Balai Budaya Elidan sebelumnya telah dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan masyarakat, termasuk peningkatan kapasitas ninik mamak, bundo kanduang, dan kegiatan adat nagari.

Fadli menegaskan dukungan terhadap pengembangan seni dan budaya merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga warisan budaya daerah.

Menurut Fadli, ruang-ruang budaya seperti ini penting karena menjadi tempat bertemunya pengetahuan, tradisi, dan kreativitas masyarakat.

Anggota DPRD Sumatra Barat Nurcholis mengapresiasi kehadiran fasilitas tersebut. Menurutnya, pembangunan Balai Budaya Elidan menjadi langkah konkret dalam memperkuat aktivitas kebudayaan masyarakat setempat.

Ke depan, Kementerian Kebudayaan akan melengkapi sejumlah fasilitas pendukung agar fungsi balai budaya semakin optimal.

Salah satu yang disiapkan adalah perpustakaan yang berisi koleksi buku mengenai seni, budaya, sejarah, dan adat istiadat Minangkabau.

Dengan pengembangan tersebut, Balai Budaya Elidan diharapkan tidak hanya menjadi tempat berkegiatan, tetapi juga pusat belajar budaya bagi masyarakat dan generasi muda.

Di tengah arus modernisasi yang semakin kuat, keberadaan ruang budaya berbasis komunitas dinilai menjadi salah satu cara menjaga pengetahuan dan tradisi lokal tetap hidup di tengah masyarakat.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *