JAKARTA – Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai peluang Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan BI Rate pada rapat besok semakin kecil seiring membaiknya nilai tukar rupiah.
Menurutnya, skenario yang paling mungkin adalah BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,50 persen, mengingat bank sentral telah menaikkan suku bunga secara agresif sebesar 75 basis poin dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.
“Kenaikan 50 bps pada Mei dan 25 bps pada RDG mingguan 9 Juni sudah cukup kuat sebagai sinyal bahwa BI serius menjaga stabilitas rupiah,” jelasnya dalam keterangannya, dikutip Kamis, 18 Juni.
Ia menambahkan penguatan rupiah menjadi salah satu faktor utama yang mengurangi kebutuhan kenaikan suku bunga lanjutan.
Menurutnya langkah pengetatan sebelumnya bertujuan menahan pelemahan rupiah, menarik kembali aliran modal asing, serta menjaga ekspektasi inflasi.
Josua mengatakan dengan kondisi rupiah yang mulai stabil, harga minyak yang menurun, dan arus dana asing yang kembali masuk ke instrumen berbasis rupiah, urgensi untuk menaikkan suku bunga kembali menjadi lebih rendah.
“Dalam kondisi seperti ini, BI kemungkinan lebih memilih menunggu dampak kenaikan sebelumnya bekerja terlebih dahulu,” katanya.
Meski demikian, Josua mengatakan arah kebijakan BI tetap dipengaruhi oleh perkembangan global, terutama kebijakan moneter Amerika Serikat, jika The Fed memberikan sinyal bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama atau bahkan berpotensi naik kembali, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat.
Menurutnya dalam kondisi tersebut, BI masih dapat mempertahankan sikap yang tegas tanpa harus langsung menaikkan suku bunga, antara lain melalui instrumen seperti SRBI, intervensi pasar valas yang terukur, peningkatan imbal hasil instrumen moneter, serta pemberian insentif lindung nilai guna menjaga daya tarik aset rupiah.
“Jadi, saya melihat peluang BI menahan suku bunga lebih besar, sekitar 80-90 persen. Peluang kenaikan lagi sebesar 25 bps tetap ada, tetapi lebih sebagai skenario risiko jika rupiah kembali mendekati Rp18.000 per dolar AS, harga minyak naik lagi, imbal hasil surat utang Amerika Serikat meningkat, atau pasar membaca pernyataan The Fed secara sangat ketat,” tegasnya.
“Dengan kata lain, kenaikan lanjutan bukan skenario utama, tetapi tetap menjadi opsi penjaga jika tekanan pasar kembali memburuk,” tambahnya.
Selain itu, Josua menyampaikan BI juga perlu memperhitungkan dampak ekonomi dari kenaikan suku bunga tambahan, lantaran pengetatan yang terlalu cepat berpotensi meningkatkan biaya dana perbankan, menahan penurunan bunga kredit, memperlambat konsumsi dan investasi, serta meningkatkan biaya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).
“Dalam kondisi ekonomi yang masih membutuhkan dukungan pertumbuhan, kenaikan suku bunga tambahan harus benar-benar dipakai hanya jika stabilitas rupiah kembali terancam secara serius,” tegasnya.
Menurutnya dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, strategi yang paling tepat bagi BI adalah mempertahankan BI Rate di level 5,50 persen sambil tetap menyampaikan pesan kebijakan yang tegas.
Josua mengatakan BI perlu menegaskan bahwa stabilisasi rupiah tetap menjadi prioritas, inflasi akan dijaga sesuai target, dan langkah lanjutan siap ditempuh jika risiko eksternal kembali meningkat.
“Dengan cara ini, BI tetap menjaga kepercayaan pasar tanpa langsung menambah beban ke sektor riil,” ujarnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
