Atasi Limbah Kantin, Metode Maggot BSF Mulai Diterapkan Guna Urai Sampah Organik Basah


YOGYAKARTA – Metode pengolahan sampah organik terpadu dengan memanfaatkan Black Soldier Fly (BSF) atau maggot mulai diterapkan secara massal guna mengurai limbah sisa makanan di lingkungan institusi. Pendekatan biologis ini digunakan untuk menekan volume sampah basah yang selama ini menjadi persoalan utama pencemaran lingkungan komunitas.

Kepala Subdirektorat Infrastruktur Berkelanjutan, Ferriawan Yudhanto, menyatakan bahwa sampah organik basah yang bersumber dari kantin dan unit usaha memiliki karakteristik yang sulit dikelola, sehingga memerlukan penanganan khusus.

“Sampah organik basah adalah jenis sampah yang paling sulit dikelola. Oleh karena itu kami mengembangkan pengolahan menggunakan maggot BSF. Nantinya seluruh sisa makanan dari kantin dan berbagai unit usaha di lingkungan kampus akan diproses menjadi pakan maggot,” kata Ferriawan di Yogyakarta, dikutip dari ANTARA, Kamis, 18 Juni.

Ferriawan menjelaskan, daya urai maggot BSF mampu mereduksi volume limbah makanan secara signifikan dalam waktu singkat. Skema ini mengubah pola penanganan konvensional yang meletakkan sampah sebagai beban, menjadi sumber daya produktif yang bernilai ekologis.

Selain sampah basah, pengelolaan limbah kering seperti dedaunan dan sisa pemangkasan tanaman juga dilakukan secara paralel dengan mengubahnya menjadi pupuk kompos. Pupuk tersebut dialokasikan kembali untuk pemeliharaan vegetasi kawasan.

“Pemilahan harus dimulai dari diri kita sendiri. Dengan memisahkan sampah organik basah dan kering sejak dari sumbernya, kami dapat menangani setiap karakteristik sampah sesuai dengan metode pengolahan yang tepat. Sampah daun diolah menjadi kompos, sementara sampah sisa makanan dikelola lewat maggot BSF,” ujarnya.

Sistem pengelolaan limbah ini kini mulai dijadikan model percontohan oleh institusi luar daerah, salah satunya Pondok Pesantren Miftahul Anwar Dampasan asal Ciamis, Jawa Barat, yang melakukan kunjungan studi untuk mempelajari teknis pengolahan tersebut.

Penerapan metode ini diharapkan dapat menjadi prototipe bagi lembaga pendidikan lain maupun masyarakat luas dalam mengelola limbah domestik secara mandiri dari hulu.

“Kami ingin menunjukkan bahwa universitas memiliki peran sebagai agen perubahan. Apa yang kami terapkan di kampus tidak hanya berhenti di sini, tetapi bisa diadaptasi oleh masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tutur Ferriawan.

Sebagai langkah pendukung reduksi emisi secara menyeluruh, kebijakan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai di area kantin, pemasangan panel energi surya, hingga rencana pengoperasian shuttle bus listrik juga mulai diintegrasikan dalam program kawasan ramah lingkungan ini.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *