BI Salurkan Insentif KLM Rp418,1 Triliun ke Perbankan hingga Juni 2026


JAKARTA – Bank Indonesia (BI) telah menyalurkan insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp418,1 triliun kepada perbankan hingga minggu pertama Juni 2026.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, insentif tersebut terdiri ataslending channelsebesar Rp355,6 triliun daninterest rate channelsebesar Rp62,5 triliun.

“Hingga minggu pertama Juni 2026, insentif KLM yang diperoleh bank tercatat sebesar Rp418,1 triliun,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan kelompok bank, penyaluran KLM terbesar diterima bank BUMN sebesar Rp209,6 triliun, diikuti bank umum swasta nasional (BUSN) Rp169,9 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) Rp30,8 triliun, serta kantor cabang bank asing (KCBA) Rp7,8 triliun.

Secara sektoral, insentif tersebut disalurkan untuk mendukung sektor prioritas, antara lain pertanian, industri dan hilirisasi, jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi, real estat dan perumahan, serta UMKM, koperasi, inklusi, dan pembiayaan berkelanjutan.

“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat implementasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif antara lain melalui penguatan kebijakan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM), KLM, dan Rasio Pendanaan Luar Negeri Bank (RPLN) untuk terus mendukung penyaluran kredit/pembiayaan perbankan,” ujar Perry.

Selain itu, bank sentral akan memperkuat KLM dengan memberikan insentif bagi bank yang meningkatkan pembiayaan nonkredit dan pendanaan non-dana pihak ketiga (DPK), serta menerapkan suku bunga kredit yang sejalan dengan kebijakan bank sentral.

“Koordinasi dengan Pemerintah dan KSSK terus diperkuat untuk memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan,” kata Perry.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit perbankan tetap menunjukkan tren positif.

Pada Mei 2026, kredit perbankan tumbuh 11,51 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), naik dibandingkan April 2026 yang tumbuh 9,98 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kredit investasi yang meningkat 21,95 persen, kredit modal kerja 8,09 persen, dan kredit konsumsi 5,89 persen.

“Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12 persen,” tambah Perry Warjiyo.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *