JAKARTA – Anthropic, perusahaan di balik chatbot AI Claude, mulai menunjukkan langkah nyata untuk memperkuat kehadirannya di Singapura. Perusahaan asal San Francisco itu membuka sejumlah posisi baru di negara tersebut, menegaskan bahwa pertarungan merebut talenta AI kini tidak lagi hanya terjadi di Amerika Serikat dan Eropa.
Berdasarkan laporan The Straits Times dikutip Kamis, 4 Juni, laman karier Anthropic pada 4 Juni menampilkan empat lowongan berbasis di Singapura yang mencakup bidang keuangan, dukungan produk, dan riset ekonomi.
Langkah ini menempatkan Anthropic dalam jalur yang sama dengan OpenAI dan Google DeepMind yang lebih dulu memperluas operasinya di Singapura. Negara itu dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi salah satu pusat pengembangan dan adopsi AI di kawasan Asia.
Salah satu posisi yang dibuka adalah kepala akuntansi Asia-Pasifik. Jabatan ini akan bertanggung jawab membangun dan menjalankan fungsi akuntansi regional Anthropic.
Posisi tersebut akan melapor kepada kepala akuntansi internasional yang berbasis di Dublin, Irlandia. Kandidat yang terpilih nantinya juga akan memimpin tim operasional keuangan dan akuntansi di sejumlah negara Asia-Pasifik.
Anthropic juga membuka dua posisi spesialis dukungan produk yang bertugas membantu pengguna sekaligus menguasai seluruh lini produk perusahaan.
Selain itu, perusahaan mencari ekonom riset regional yang akan bekerja sama dengan pemerintah, akademisi, dan pelaku industri untuk mengukur dampak AI terhadap perekonomian serta mengevaluasi berbagai opsi kebijakan berbasis riset.
Kandidat untuk posisi ini harus memiliki gelar doktor (PhD) di bidang ekonomi, memiliki rekam jejak kuat dalam riset empiris, memahami teknologi pembelajaran mesin (machine learning), dan menguasai bahasa pemrograman Python.
Untuk posisi ekonom riset regional, Anthropic menawarkan gaji tahunan antara 307.200 hingga 331.200 dolar Singapura, termasuk komisi penjualan. Besaran gaji untuk posisi lain tidak diungkap.
Menurut informasi pada iklan lowongan tersebut, seluruh karyawan yang berbasis di Singapura juga diwajibkan bekerja dari kantor setidaknya 25 persen dari waktu kerja mereka.
Meski membuka sejumlah posisi, Anthropic menolak memberikan keterangan lebih lanjut saat ditanya mengenai rencana pembukaan kantor maupun target perekrutan di Singapura.
Ekspansi ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan perusahaan terhadap teknologi AI untuk mendongkrak produktivitas dan daya saing bisnis. Sejak didirikan pada 2021, Anthropic telah membuka 12 kantor di berbagai negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, India, dan Australia.
The Straits Times juga melaporkan bahwa GIC, dana kekayaan negara Singapura, merupakan salah satu investor penting Anthropic.
GIC pertama kali berinvestasi pada September 2025 dalam putaran pendanaan senilai 13 miliar dolar AS. Pada Februari 2026, lembaga tersebut kembali memimpin pendanaan Seri G sebesar 30 miliar dolar AS.
Tak lama setelah itu, putaran pendanaan Seri H mendorong valuasi Anthropic menjadi 965 miliar dolar AS. Angka tersebut disebut melampaui valuasi OpenAI yang mencapai 852 miliar dolar AS. Namun, laju pertumbuhan Anthropic tidak lepas dari kontroversi.
Pada April lalu, model Claude Mythos Preview milik perusahaan itu memicu perhatian global karena diklaim mampu menemukan celah keamanan pada perangkat lunak dan menghasilkan kode untuk mengeksploitasi kelemahan tersebut.
Alih-alih merilisnya secara luas, Anthropic hanya membagikan model itu kepada sekitar 50 perusahaan teknologi melalui program bernama Project Glasswing. Di antara peserta program tersebut terdapat Microsoft, Google, dan Apple.
Anthropic mengklaim model tersebut berhasil menemukan kerentanan pada berbagai sistem operasi dan peramban web utama.
Perkembangan itu memicu kekhawatiran di sektor keuangan Amerika Serikat. Sejumlah petinggi Wall Street bahkan dilaporkan menggelar pertemuan darurat untuk membahas potensi risiko yang dapat ditimbulkan teknologi tersebut terhadap sistem keuangan.
Kekhawatiran serupa juga muncul di Singapura. Para pimpinan lembaga keuangan besar bertemu dengan Monetary Authority of Singapore (MAS) untuk membahas langkah menghadapi ancaman siber dari model AI canggih. Otoritas setempat juga meminta perusahaan memperkuat sistem keamanan digital mereka.
Anthropic sebelumnya juga menjadi sorotan setelah menolak memberikan hak penggunaan militer tanpa syarat kepada Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Setelah itu, teknologinya dikategorikan sebagai risiko rantai pasok (supply-chain risk), yakni risiko yang muncul dari penggunaan teknologi pemasok pihak ketiga dalam jaringan pemerintah. Status tersebut membuat kontraktor pemerintah tidak diperbolehkan menggunakan teknologi Anthropic dalam proyek yang berkaitan dengan militer AS.
Ekspansi Anthropic ke Singapura mengikuti langkah OpenAI dan Google DeepMind yang lebih dulu membangun kehadiran di negara tersebut. Di saat yang sama, perusahaan makin banyak mencari teknologi AI untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing bisnis.
