JAKARTA – Burung moa sudah punah sekitar 600 tahun lalu. Tapi perusahaan bioteknologi Colossal Biosciences kini mengklaim punya langkah awal untuk membawanya kembali: cangkang telur buatan.
Dilaporkan The Guardian dikutip Jumat, 22 Mei, sistem itu sudah dipakai untuk menetaskan ayam. Colossal berharap teknologi tersebut kelak bisa diperbesar untuk menetaskan burung seukuran moa.
Moa adalah burung raksasa asal Selandia Baru yang tidak bisa terbang. Tingginya bisa lebih dari 3 meter. Beratnya lebih dari 200 kilogram. Telurnya lebih besar daripada telur burung mana pun yang masih hidup saat ini.
Proyek ini masuk dalam bidang de-extinction, yaitu upaya menghidupkan kembali spesies yang sudah punah dengan bantuan teknologi genetika dan reproduksi.
“Kami telah menciptakan sistem kultur tanpa cangkang yang baru, sepenuhnya bisa diskalakan dan akurat secara biologis,” kata Kepala Biologi Colossal, Prof Andrew Pask.
Namun, klaim itu belum membuat semua ilmuwan terkesan. Sebab, pengumuman tersebut baru disampaikan lewat siaran pers. Rincian data ilmiahnya masih terbatas.
Colossal sebelumnya juga memicu kontroversi lewat klaim menghidupkan kembali dire wolf, kerabat serigala yang telah punah, serta ambisinya membawa kembali mammoth berbulu.
Secara teknis, anak ayam memang sudah bisa ditetaskan dari telur buatan. Namun, tingkat hidupnya masih terbatas. Salah satu kendalanya adalah pasokan oksigen.
Colossal menyebut sistem barunya memakai membran silikon. Membran itu diklaim bisa menyalurkan oksigen dengan laju yang sama seperti cangkang telur ayam.
“Kedengarannya mengesankan, tetapi memang akan terdengar begitu karena ini siaran pers,” kata Dr Louise Johnson, ahli genetika evolusi dari University of Reading.
“Saya menantikan rincian lebih lanjut saat diterbitkan. Namun, sampai ada makalah yang ditinjau sejawat, komentar ahli saya atas hal ini sama saja seperti mengomentari iklan YouTube,” ujarnya.
Tantangan moa jauh lebih rumit daripada ayam. Telur moa diperkirakan 80 kali lebih besar dari telur ayam dan sekitar delapan kali lebih besar dari telur emu. Ukuran itu membuat tidak ada burung hidup saat ini yang bisa menjadi induk pengganti.
Masalah lain ada pada DNA. Seiring waktu, DNA rusak dan terpecah. Karena itu, membuat ulang genom moa secara lengkap dinilai tidak mungkin.
Dalam kasus dire wolf, Colossal mengubah 20 gen pada serigala abu-abu agar tampilannya lebih mendekati dire wolf. Tetapi itu masih jauh dari replikasi genetik utuh.
Pertanyaan etis juga muncul. Carles Lalueza-Fox, Direktur Museum Ilmu Pengetahuan Alam Barcelona dan spesialis pemulihan DNA, mempertanyakan tujuan akhir proyek semacam ini.
“Sah untuk bertanya apakah secara ekologis masuk akal merancang ulang beberapa burung modern agar secara dangkal menyerupai moa, dan nasib seperti apa yang akan menanti hewan-hewan seperti itu,” katanya.
Ia juga mempertanyakan apakah hewan hasil rekayasa itu nantinya akan dilepasliarkan di Pulau Selatan Selandia Baru.
Menurut Lalueza-Fox, proyek seperti mammoth, dire wolf, dan kini moa memperlihatkan campuran antara kemajuan ilmiah dan publisitas yang bisa menyesatkan. Ia menilai klaim semacam itu harus dibaca dalam konteks kepentingan bisnis perusahaan swasta.
