JAKARTA – Peneliti China memakai kecerdasan buatan atau AI untuk memetakan infrastruktur energi surya dan angin di seluruh negeri. Hasilnya: 319.972 fasilitas tenaga surya dan 91.609 turbin angin teridentifikasi dari citra satelit.
Menurut laporan Xinhua yang dikutip Jumat, 22 Mei, studi itu dikerjakan peneliti Peking University dan DAMO Academy milik Alibaba Group. Hasil riset telah diterbitkan di jurnal Nature.
Tim peneliti menganalisis lebih dari 7,56 terabita citra satelit beresolusi tinggi. Dari sana, mereka memetakan fasilitas energi terbarukan di 1.915 county di China pada 2022.
Liu Yu, profesor di School of Earth and Space Sciences, Peking University, mengatakan data rinci itu memberi “pandangan dari atas terhadap lanskap energi terbarukan nasional”.
Temuan penting studi ini bukan hanya jumlah fasilitas. Peneliti juga melihat bagaimana listrik surya dan angin bisa saling menutup kelemahan.
Tenaga surya biasanya mencapai puncak produksi pada siang hari. Tenaga angin sering menghasilkan lebih banyak listrik pada malam hari. Jika dikelola lintas wilayah, dua sumber energi ini bisa membuat pasokan listrik lebih stabil.
Studi itu menguji empat strategi integrasi energi, dari tingkat provinsi hingga koordinasi nasional penuh. Hasilnya, koordinasi nasional antarpovinsi menjadi cara paling efektif.
Dalam sistem dengan 80 persen fleksibilitas pasokan yang dapat diatur, strategi nasional itu dapat meningkatkan penetrasi efektif energi terbarukan sebesar 99,88 terawatt-jam atau TWh.
TWh adalah satuan untuk mengukur listrik dalam jumlah sangat besar. Dalam studi ini, tambahan 99,88 TWh setara 9,1 persen dari total produksi listrik surya dan angin yang dihitung peneliti.
Jumlah itu juga disebut cukup untuk memasok beban listrik rata-rata nasional China selama sekitar 120 jam.
Yang menarik, listrik tambahan itu tidak membutuhkan pembangkit baru. Energi tersebut berasal dari listrik bersih yang sebelumnya berpotensi terbuang karena pembatasan produksi atau tidak terserap jaringan.
Studi itu menyoroti bahwa integrasi energi terbarukan tidak hanya bergantung pada penambahan panel surya dan turbin angin, tetapi juga pada pengaturan jaringan, wilayah, dan waktu pasokan.
Dengan basis data dari AI, peneliti menilai China memiliki jalur lebih jelas untuk mengintegrasikan energi terbarukan secara lebih efisien dan mengejar target netralitas karbon.
